Suasana pertemuan antara Pemkab Sukoharjo, tim independen, dan manajemen PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Kamis (4/1/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Suasana pertemuan antara Pemkab Sukoharjo, tim independen, dan manajemen PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Kamis (4/1/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Kamis, 4 Januari 2018 21:15 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Atasi Bau, Gas Buang Pabrik PT RUM Sukoharjo bakal Dimonitor CEM

Pemkab Sukoharjo terus berupaya membantu mengatasi masalah bau tak sedap dari pabrik PT RUM yang mengganggu warga.

Solopos.com, SUKOHARJO — Manajemen PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, bakal memasang continuous emission monitoring (CEM) untuk memantau kualitas emisi atau gas buang di sekitar pabrik. Dengan begitu diharapkan limbah dari perusahaan itu tidak menimbulkan bau busuk yang mengganggu warga.

Sementara itu hasil uji laboratorium sampel udara beserta rekomendasi teknis dari tim independen bakal dipaparkan kepada masyarakat di sekitar pabrik pada Selasa (9/1/2018). (Baca: Hasil Uji Laboratorium Sampel Udara Sekitar PT RUM Bikin Kecewa Warga Nguter)

Pemkab Sukoharjo melakukan pertemuan dengan tim independen dan manajemen PT RUM di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Kamis (4/1/2017). Pertemuan itu dipimpin Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sukoharjo Widodo didampingi Kepala DLH Sukoharjo Djoko Sutarto.

Sementara dari PT RUM diwakili Presiden Direktur (Presdir) Pramono dan Direktur Umum Mochamad Rachmad. Ketua Program Studi (Prodi) Pascasarjana Ilmu Lingkungan UNS Solo Prabang Setyono mewakili tim independen memaparkan hasil uji laboratorium sampel udara PT RUM.

“Kami akan mengikuti rekomendasi teknis dari tim independen termasuk pemasangan CEM untuk memantau kualitas emisi. Rencananya CEM dipasang di sekitar cerobong pabrik pada Senin [8/1/2018],” kata Pramono saat berbincang dengan wartawan, Kamis.

Tim independen bakal memantau kualitas emisi setelah CEM dipasang di sekitar pabrik. Alat itu bisa memperkirakan besaran emisi dari industri pabrik sehingga penyebab limbah udara yang menimbulkan bau tak sedap di lokasi pabrik bisa diketahui secara jelas. (Baca: Warga 6 Desa Nguter Kembali Berdemo karena Terganggu Bau dari PT RUM)

Hasil uji laboratorium sampel udara juga bakal dipaparkan tim independen kepada warga sekitar pabrik pada pekan depan. “Forum Komunikasi Pimpinan Daerah [Forkopinda] Sukoharjo bakal hadir saat pertemuan dengan warga. Tim independen yang memaparkan hasil uji laboratorium sampel udara karena bersifat teknis,” ujar Pramono.

Prabang Setyono mengatakan pemasangan CEM di sekitar pabrik merupakan langkah awal untuk mengatasi kasus limbah udara yang mengganggu aktivitas warga. Pramono bakal mencari sumber limbah udara di lokasi pabrik. Prabang meyakini ada solusi alternatif untuk mengatasi kasus limbah udara tersebut.

“Butuh waktu untuk mencari sumber limbah udara. Apakah jaringan pipa pembuangan bocor atau ada kendala teknis lainnya. Ini yang saya cari solusinya. Jadi masyarakat harus bersabar,” papar dia.

Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sukoharjo, Widodo, mengatakan Pemkab berupaya keras mengatasi kasus limbah udara PT RUM agar tak lagi mengganggu aktivitas masyarakat. Salah satu upaya itu meminta pakar lingkungan hidup dari UNS Solo untuk mencari solusinya.

Widodo berharap bau tak sedap yang berasal dari limbah pabrik tak muncul sehingga tak mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….