Salah satu overpass di Dukuh Menjingan, Donohudan, Ngemplak, yang bakal dibangun membelok ke arah barat. (Aries Susanto/JIBI/Solopos) Salah satu overpass di Dukuh Menjingan, Donohudan, Ngemplak, yang bakal dibangun membelok ke arah barat. (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Rabu, 3 Januari 2018 21:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SOLO-KERTOSONO
Warga Ngemplak Boyolali Meradang Lihat Overpass Dibelokkan

Warga Ngemplak, Boyolali, protes karena overpass yang dibelokkan bakal mematikan perekonomian mereka.

Solopos.com, BOYOLALI — Warga Kampung Menjing dan Jebol, Desa Donohudan, Ngemplak, Boyolali, dibuat meradang dengan pembangunan jalan layang (overpass) Tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah mereka yang dibelokkan ke barat. Menurut mereka, pembelokan overpass sangat merugikan warga sekitar dan mematikan perekonomian warga.

Ketua kelompok warga yang menolak overpass Menjing, Wahyu Sulistyo, mengatakan saat ini pembangunan overpass masih dihentikan. Sulistyo dan warga lainnya menuntut pembangunan overpass seperti rencana awal yang lurus. (baca: Tol Soker Beroperasi Mulai Januari 2018, Pembangunan Dikebut)

“Hari ini sebenarnya kami mau aksi damai, tapi kami undur besok [Kamis, 4/1/2018]. Kami tegas menolak overpass yang membelok. Kami menuntut overpass lurus seperti rencana awal,” jelasnya kepada Solopos.com, Rabu (3/1/2018).

Ada enam alasan warga menolak rencana pembelokan ujung overpass itu. Pertama, kata Sulistyo, overpass yang dibelokkan akan mempersulit akses penggunaan jalan dari daerah Donohudan dan wilayah Desa Kismoyoso. Alasan kedua, pembelokan overpass akan menimbulkan penumpukan kendaraan di satu lokasi.

“Alasan selanjutnya, jika overpass dibelokkan, wilayah RW 007 dan RW 008 akan terisolasi. Jalan yang sudah ada selama ini dimatikan,” terangnya.

Selain alasan tersebut, kata dia, pembelokan overpass akan menurunkan harga tanah warga setempat. Selain itu yang tak kalah penting, dengan pembelokan overpass, perekonomian warga setempat akan lumpuh.

“Alasan-alasan inilah yang membuat warga meminta pelaksana tol membatalkan rencana pembelokan overpass itu. Karena kerugiannya lebih banyak ketimbangan manfaatnya,” tambahnya.

Sulistyo dan warga lainnya tidak menolak pembangunan proyek pembangunan Tol Soker. Namun, mereka juga meminta proyek itu benar-benar memberikan dampak positif kepada warga setempat. “Kembalikan seperti rencana awal. Kalau diubah lagi, banyak warga yang dikorbankan,” tambahnya.

Pelaksana Humas pembangunan Tol Soker, Supriyanto, membenarkan overpass akan dibelokkan ke arah barat. Menurut Supri, pembelokan overpass itu karena ada sebagian kecil warga yang sulit menerima tawaran pembebasan lahan.

Daripada proyek tak dilanjutkan, kata dia, akhirnya overpass dibelokkan di atas lahan milik Tol Soker. “Kami sendiri juga kaget ketika melihat desain overpass dibelokkan. Setelah saya tanya Wika, katanya ada warga yang enggak mau lahannya dibebaskan,” kata dia.

Supri berjanji bernegosiasi lagi dengan warga sekitar. Selain di Donohudan, pembelokan overpass juga terjadi di sisi utara Mapolsek Ngemplak. Namun, dalam kasus ini tak menimbulkan gejolak masyarakat karena pembelokan itu dilakukan karena lahan untuk jalur landai overpass tak mencukupi.

“Jika dipaksakan overpass lurus, justru malah memotong lagi jalan di depan Mapolsek Ngemplak,” paparnya.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….