Ilustrasi uang tunai rupiah. (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis) Ilustrasi uang tunai rupiah. (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis)
Rabu, 3 Januari 2018 07:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Ekonomi Share :

Sepanjang Desember 2017, Kebutuhan Uang DIY Rp1,6 Triliun

Terdapat peningkatan yang cukup signifikan

Solopos.com, JOGJA-Sepanjang Desember 2017 realisasi kebutuhan uang yang ditarik perbankan DIY mencapai Rp1,6 triliun dari yang disiapkan Bank Indonesia sebanyak Rp3,2 triliun. Dibandingkan periode sama di tahun lalu, terdapat peningkatan yang cukup signifikan yang salah satunya disebabkan karena masa libur panjang yang relatif lebih lama.

“Dari yang kami siapkan sebanyak Rp3,2 triliun, yang ditarik perbankan hanya Rp1,6 triliun,” ujar Deputy Director Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY Sri Fitriani kepada Harianjogja.com, Selasa (2/1/2018).

Wanita yang biasa disapa Fifin ini mengatakan, jumlah uang kartal yang ditarik perbankan pada akhir tahun 2017 relatif lebih besar dibandingkan periode sebelumnya. Pasalnya, bertepatan dengan momen libur panjang yang relatif lebih lama, membuat kebutuhan uang tunai masyarakat menjadi lebih banyak.

“Selain itu, mungkin karena pariwisata juga, di mana DIY banyak diserbu wisatawan pada bulan tersebut. Memang kami tidak punya datanya, tetapi salah satu faktor dari pariwisata bisa jadi membuat kebutuhan uang menjadi meningkat,” ungkap dia.

Pada periode Desember 2016, jumlah realisasi uang kartal yang ditarik perbankan relatif lebih sedikit yakni hanya sebesar Rp1,28 triliun. Padahal, pada periode-periode sebelumnya, penyerapan uang kartal oleh perbankan cenderung di atas Rp1,4 triliun. Pada Desember 2014, realisasi penyerapan uang tunai mencapai Rp1,483 trilun dan Desember 2015 mencapai Rp1,49 triliun.

“Kebanyakan pecahan yang keluar, Rp50.000 dan Rp100.000. Kalau dibandingkan dengan periode Lebaran, jumlah uang yang beredar tentunya lebih banyak,” imbuh Fifin.

Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi trafik peredaran uang tunai di masyarakat. Seperti disampaikan Kepala KPw BI DIY Budi Hanoto, layanan nontunai sudah mulai banyak dimanfaatkan masyarakat. Kemudahan dalam bertransaksi memberikan kesempatan masyarakat untuk memanfaatkan layanan itu untuk melakukan pembayaran.

“Intinya, GNNT akan memengaruhi seberapa besar bank menarik uang kartal dari BI. Apabila nanti ada penurunan peredaran uang kartal itu menandakan penggunaan pembayaran nontunai sudah mulai dilakukan masyarakat,” jelas Budi.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….