Presiden Joko Widodo berbincang dengan pemilik bengkel Kiat Motor, Sukiyat, saat meninjau prototipe pengembangan mobil pedesaan Mahesa di bengkel yang beralamat di Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (17/9/2017) malam. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Presiden Joko Widodo berbincang dengan pemilik bengkel Kiat Motor, Sukiyat, saat meninjau prototipe pengembangan mobil pedesaan Mahesa di bengkel yang beralamat di Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (17/9/2017) malam. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Rabu, 3 Januari 2018 11:15 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Roda 4 Share :

Mobil Pedesaan Mahesa Produksi Sukiyat Dipasarkan Agustus 2018

Mobil pedesaan Mahesa yang diinisiasi Sukiyat diproduksi secara keroyokan.

Solopos.com, SOLO — Alat transportasi pertanian Mahesa bakal diproduksi secara half assembly. Artinya, proses pembuatan alat transportasi tidak dilakukan dalam satu pabrik, melainkan secara keroyokan oleh sejumlah Industri Kecil Menengah (IKM) di Indonesia.

Inisiator Mahesa Nusantara, Sukiyat, optimistis pada Agustus 2018, alat transportasi itu bisa diluncurkan ke pasar. Pada tahap awal akan diproduksi sebanyak 5.000 – 10.000 unit. Pengembangan dan peningkatan jumlah produksi dilakukan seiring perkembangan pasar.  (Baca: Jokowi Dorong Mobil Pedesaan Diuji Emisi)

“Nanti produksinya secara half assembly atau tidak dirakit seluruhnya. Kalau bikin baju istilahnya njahitke [menjahitkan baju],” kata Sukiyat, saat ditemui wartawan di bengkel Kiat Motor, jalan Solo–Jogja, Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Klaten, Selasa (2/1/2017).

Dia menjelaskan bengkel Kiat Motor akan membikin alat transportasi itu hingga kondisi 70-75 persen jadi. Sisanya, akan digarap gotong royong bersama beberapa IKM. Ada sejumlah perusahaan yang diajak Kiat Motor seperti Sokon, Tata, dan Astra.

Kendati sebagian komponen diproduksi di luar bengkel, ia memastikan bahan baku hingga ukuran dikirim dari bengkel Kiat dan dikerjakan di Indonesia. “Tapi, di mana menjahitnya ini masih dibahas lagi. Jadi tidak lagi bikin pabrik dulu. Kalau satu tahun untuk bikin pabrik, bikin fondasinya saja enggak cukup,” terang Sukiyat.

Saat ini, ia sedang fokus dalam membangun prinsipal atau semacam badan/lembaga yang akan memproduksi Mahesa. Pendirian prinsipal tersebut ditargetkan selesai Maret mendatang. “Ini sudah mengerucut. Besok 10 Januari saya ke Jakarta, rapat lagi,” tutur Sukiyat.

Komponen paling mahal dalam pengembangan alat transportasi pertanian perdesaan ini, lanjut Sukiyat, adalah bagian riset. Sukiyat setidaknya memulai riset untuk Mahesa ini sejak 2008. Kendati demikian, Sukiyat enggan menyebutkan berapa total biaya riset yang ia keluarkan untuk menggarap Mahesa itu. (baca juga: Dijamin Murah, Ini Harga Mobil Pedesaan Produksi Sukiyat)

“Bukan soal biayanya. Yang penting saya berharap alat transportasi karya anak bangsa ini bisa segera membantu para petani di desa-desa,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pribumi dalam Kuasa Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (26/10/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gtmail.com.  Solopos.com, SOLO–Pada 19 juli 1913 terbit artikel berjudul Als ik een Nederlander was (Andai Saya…