Pengunjung mengamati koleksi logam di Ruang Ketiga Museum Radya Pustaka (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos) Pengunjung mengamati koleksi logam di Ruang Ketiga Museum Radya Pustaka Solo. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Rabu, 3 Januari 2018 10:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

Kota Solo Masuk Daftar Nominasi ASEAN Clean Tourist City

Kota Solo masuk dalam daftar nominasi ASEAN Clean Tourist City.

Solopos.com, SOLO — Kota Solo terpilih menjadi salah satu dari tujuh kota di Indonesia yang masuk dalam daftar nominasi penghargaan standar Kota Wisata Bersih Tingkat Asia Tenggara (ASEAN Clean Tourist City). Kota Solo bahkan dikabarkan telah dianggap memenuhi kriteria sehingga berhak memperoleh penghargaan tersebut.

Sekretaris Dinas Pariwisata Solo (Disparta) Solo, Budi Sartono, mengatakan belum lama ini pejabat Disparta memperoleh pemberitahuan dari pejabat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terkait hasil penilaian ajang ASEAN Clean Tourist City.

Menurut dia, Kementerian Pariwisata mengabarkan bahwa Kota Solo dinyatakan telah memenuhi kriteria sebagai Kota Wisata Bersih Tingkat ASEAN sehingga berhak menerima penghargaan. Kota Solo diminta bersiap-siap menerima penghargaan yang akan diberikan di Thailand pada akhir Januari 2018.

“Dari Kemenpar ada yang memberi tahu bahwa Solo dapat penghargaan, namun sampai sekarang memang belum ada surat pemberitahuan resminya baik dari Kemenpar maupun penyelenggara ajang ASEAN Clean Tourist City. Mari tunggu saja. Setidaknya Solo sudah diakui dengan masuk nominasi Kota Wisata Bersih Tingkat ASEAN,” kata Budi saat diwawancarai solopos.com, Selasa (2/1/2018).

Selain Solo, ada Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, Buleleng, dan Banyuwangi yang masuk dalam nominasi penghargaan ASEAN Clean Tourist City dari Indonesia. Budi menyampaikan tim penilai dari Kemenpar telah menilai kebersihan Kota Solo bukan hanya di objek-objek wisata, melaikan juga kawasan lain yang tidak terlepas dari kehidupan kota.

Tim penilai ajang ASEAN Clean Tourst City, kata dia, bukan saja mengukur kebersihan secara visual melainkan juga melibatkan indera pendengaran hingga penciuman.

“Tim penilai mencoba melihat kebersihan kota yang paripurna. Tim menilai kebersihan bukan saja yang terlihat seperti tidak ada sampah, tapi juga memperhatikan sampah suara dan bau. Jadi, untuk bisa memperoleh penghargaan, kota itu selain enak dilihat, juga harus enak didengar, dicium, dan punya cita rasa yang sehat,” jelas Budi.

Kepala Disparta Solo, Basuki Aggoro Hexa, menyampaikan Disparta Solo telah mengikuti serangkaian tahap penilaian dalam ajang ASEAN Clean Tourist City, mulai dari paparan di Bogor dan Jakarta hingga mendampingi tim penilai menemui Wali Kota Solo.

Dia merasa bangga setidaknya Solo kini telah masuk nomine kota yang berkesempatan memperoleh penghargaan ASEAN Clean Tourist City. Hexa berharap mudah-mudahan Solo bisa meraih penghargaan tersebut sebagai pelecut untuk terus memperbaiki kualitas pariwisata di Kota Bengawan.

“Kalau orang menilai sebuah lingkungan bersih atau tidak rata-rata menggunakan indikator dari hasil pengamatan mata, seperti oh tidak ada kotoran. Tapi kalau di pariwisata, indikatornya ditambah hidung, soal bau. Contoh saja toilet, dalam standar pariwisata, tidak boleh mengeluarkan bau amoniak . Jadi standar penilaian pengharagaan ASEAN Clean Tourist City lebih tinggi dari Adipura,” jelas Hexa.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….