Salah satu Al Quran yang menjadi barang bukti pembakaran di Masjid Al Iman, Siluwok Lor, Tawangsari, Selasa (2/1/2018). Barang bukti kemudian dibawa ke Polres Kulonprogo. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Salah satu Al Quran yang menjadi barang bukti pembakaran di Masjid Al Iman, Siluwok Lor, Tawangsari, Selasa (2/1/2018). Barang bukti kemudian dibawa ke Polres Kulonprogo. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 3 Januari 2018 20:55 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Hasto Siapkan Dokter dan Psikolog untuk Periksa Pelaku Pembakaran Al Quran

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan dirinya telah mengerahkan Dinas-dinas terkait untuk menyelesaikan dan mempelajari peristiwa pembakaran pembakaran Kitab Suci Al-Quran

Solopos.com, KULONPROGO– Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan dirinya telah mengerahkan Dinas-dinas terkait untuk menyelesaikan dan mempelajari peristiwa pembakaran pembakaran Kitab Suci Al-Quran yang terjadi di Siluwok Lor, Desa Tawangsari, Pengasih, Selasa (2/1/2018) kemarin.

Baca juga: Pelaku Pembakaran Al Quran di Pengasih Diduga Alami Gangguan Jiwa

Ditemui di Rumah Dinas Bupati Kulonprogo, Hasto mengukapkan telah mengerahkan Badan Kesatuan, Bangsa dan Politik Kulonprogo (Kesbangpol), Asisten Daerah Kulonprogo (Asda) alias jajaran Pemkab Kulonprogo untuk mempelajari peritiwa pembakaran tersebut.

“Kami tidak tinggal diam, karena bagian Kesbangpol, Asda, Kesra [Asisten Sekretariat Bagian Kemasyarakatan] telah menelusuri. Dan akan kita pelajari nanti,” jelasnya, Rabu (3/1/2018).

Adapun dalam kesempatan itu dirinya juga mengimbau masyarakat, khususnya warga Kulonprogo untuk tetap berada dalam suasana damai seperti sebelumnya.

“Pesan saya jangan gelisah cemas dan marah. Percayakan pada kami untuk mempelajari masalah ini,” katanya tegas di depan awak media.

Hasto juga telah mempersiapkan dokter kejiwaan dan psikolog untuk membantu dalam penyelidikan jika pelaku yang diduga perempuan tidak normal itu telah tertangkap. Dimana menurut pelaku bisa diindentifikasi lebih lanjut apakah pelaku berpura-pura gila atau memang gila.

“Sebetulnya ketika nanti bisa identifikasi pelakunya dan bisa kita cantum di berita acara baik secara mental tidak sulit, karena antara orang pura pura [gila] atau tidak kan mudah terlihat,” tandasnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….