Pemeriksaan elpiji 3 kg. Petugas dari Pertamina MOR IV JBT, Pemkot Semarang, Hiswana Migas, dan Polrestabes Semarang saat melakukan inspeksi elpiji bersubsidi di tempat pembuatan kerupuk rambak di Jl. Srikuncoro, Kalibanteng, Semarang, Rabu (3/1/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa-Pertamina MOR IV JBT)
Rabu, 3 Januari 2018 23:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

ELPIJI SEMARANG
Duh, Banyak Restoran Gunakan Elpiji Subsidi

Elpiji bersubsidi banyak digunakan restoran dan rumah makan di Semarang.

Solopos.com, SEMARANG —  Penggunaan elpiji 3 kg atau elpiji bersubsidi di Kota Semarang tampaknya tak berjalan sesuai peruntukannya. Terbukti, masih banyak pelaku industri kuliner, baik rumah makan maupun restoran yang menggunakan elpiji bersubsidi tersebut.

Hal ini terlihat saat PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jawa Bagian Tengah (JBT) bersama Pemkot Semarang, Polrestabes Semarang, dan Hiswana DPC Semarang menggelar inspeksi di sejumlah rumah makan di Semarang, Rabu (3/1/2018).

Dalam inspeksi itu, mereka menemukan masih ada rumah makan dan tempat industri kuliner yang menggunakan elpiji 3 kg. Padahal, sesuai aturan elpiji gas melon hanya diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu.

Pejabat sementara (Pjs) Manajer Komunikasi dan CSR Pertamina MOR IV JBT, Muslim Dharmawan, menyebutkan ada dua rumah makan dan satu tempat industri kuliner yang kedapatan menggunakan elpiji bersubsidi dalam inspeksi itu.

“Rumah makan yang masih menggunakan adalah RM Sampurna di Jl. Raya Mangkang dengan konsumsi 13 tabung LPG 3 kg per hari dan pabrik kerupuk rambak bernama Ali di Jl. Srikuncoro, Kalibanteng, dengan konsumsi 37 tabung per hari dan pabrik kerupuk di Jl. Gajah dengan konsumsi 19 tabung per hari,” ungkap Muslim dalam keterangan resmi yang diterima Semarangpos.com, Rabu.

Sementara itu, Sales Executive LPG Pertamina MOR IV JBT Rayon I Wilayah Semarang, Bima Kusuma Aji, menyebutkan inspeksi gabungan digelar untuk menertibkan penyaluran elpiji 3 kg. Pertamina berharap setelah kegiatan itu penyaluran elpiji bersubsidi bisa tepat sasaran dan memberikan efek jera kepada golongan masyarakat atau pengusaha yang kerap menyalahgunakan.

“Kan sudah tertulis di tabung elpiji 3 kg, bahwa elpiji ini untuk masyarakat miskin. Seharusnya pelaku industri merasa malu mengambil hak dari orang miskin. Apabila alasan elpiji non subsidi susah dicari, tim dari Hiswana Migas bisa dihubungi untuk mengantarkan,” terang Bima.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….