Beskap yang menjadi salah satu pakaian khas masyarakat Madiun. (Istimewa/Pemkot Madiun) Beskap yang menjadi salah satu pakaian khas masyarakat Madiun. (Istimewa/Pemkot Madiun)
Selasa, 2 Januari 2018 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Ini Model Pakaian Khas Madiun Tempo Dulu

Pemkot Madiun menggandeng sejarawan dari UGM untuk menelusuri pakaian masyarakat Madiun tempo dulu.

Solopos.com, MADIUN — Pemerintah Kota Madiun menggandeng peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk meneliti pakaian khas Kota Madiun yang digunakan sejak zaman dahulu. Nantinya pakaian khas tersebut akan dipergunakan untuk pakaian resmi di pemerintah setempat.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olah Raga Kota Madiun, Agus Purwowidagdo, mengatakan ada peneliti sejarah dari UGM yang diajak bekerja sama untuk meneliti tentang pakaian khas Kota Madiun. Hal itu agar khas yang digunakan nantinya memliki dasar dan sejarah yang kuat.

Peneliti dari UGM tersebut telah melakukan kajian di Perpustakaan Nasional hingga ke Belanda untuk mencari bukti-bukti pustaka mengenai pakaian yang digunakan masyarakat Madiun saat itu. Pemerintah kota setempat mengeluarkan anggaran sekitar Rp75 juta untuk proses pencarian identitas masyarakat Madiun ini.

Setelah dilakukan kajian dan penelitian dengan melihat literatur dari buku-buku sejarah, kata Agus, dihasilkan model pakaian pria yaitu terdiri dari blangkon/udheng, beskap, dan jarit. Sedangkan untuk wanita yaitu rasukan atau kebaya dan jarit.

“Kami memang sengaja menggandeng UGM untuk melakukan kajian ini. Karena kami tidak memiliki keahlian itu,” ujar dia kepada wartawan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/1/2018).

Agus menuturkan untuk pakaian yang digunakan masyarakat Madiun saat itu berupa blangkon, beskap, dan jarit. Ini merupakan pakaian yang merupakan gabungan dari tradisi Jawa dan Belanda.

Lebih lanjut, dia menyampaikan pakaian khas ini nantinya akan memperkuat identitas Kota Madiun dan akan dipatenkan. Selanjutnya pakaian khas Madiun ini juga akan ditetapkan melalui Perwali sebagai pakaian resmi yang bisa digunakan saat ada kegiatan-kegiatan kedaerahan.

“Ke depan juga akan kita perkenalkan ke masyarakat. Supaya mereka juga tahu pakaian asli Madiun,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….