Ilustrasi inflasi atau deflasi. (wilsonrevunplugged.blogspot.com) Ilustrasi inflasi atau deflasi. (wilsonrevunplugged.blogspot.com)
Selasa, 2 Januari 2018 21:05 WIB Peni Widarti/JIBI/Bisnis Madiun Share :

Inflasi Jatim 2017 Lebih Tinggi Ketimbang Inflasi Nasional, Kok Bisa?

Inflasi Jatim tahun 2017 mencapai 4,04%.

Solopos.com, SURABAYA — Provinsi Jawa Timur sepanjang 2017 mengalami inflasi mencapai 4,04% yang didorong oleh faktor kenaikan biaya tarif listrik dan biaya perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK) di awal tahun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono, mengatakan inflasi Jatim pada 2017 tersebut lebih tinggi dari inflasi nasional yakni 3,61%. Meski begitu, katanya, tingginya inflasi di Jatim bukan berarti ada kegagalan dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Lebih tinggi dari nasional bukan berarti gagal karena angka nasional itu disusun dari 33 provinsi dari 90 kabupaten/kota. Jadi ada tempat-tempat yang mungkin berhasil mengendalikan inflasi ada yang kurang berhasil,” katanya saat paparan Berita Resmi Statistik, Selasa (2/1/2018), di Surabaya.

Teguh Pramono mengatakan kenaikan inflasi tertinggi sudah terjadi di awal tahun di mana biaya listrik di mana pemerintah mencabut subsidi listrik pada Januari 2017 untuk pelanggan kategori 900 VA yang dianggap mampu, dan pencabutan dilakukan secara bertahap pada Juni 2017 dengan total perubahan harga listrik hingga 33%.

“Inflasi sepanjang 2017 ini terjadi juga karena kenaikan harga bahan bakar minyak [BBM] nonsubsidi 6% di awal tahun. Termasuk kenaikan biaya perpanjangan STNK dengan perubahan harga mencapai 106%,” kata dia.

Adapun komoditi/barang lain yang cukup banyak menyumbang inflasi Jatim sepanjang 2017 yakni kenaikan harga beras 6,7%, dan emas perhiasan 12%. Namun begitu, terdapat 5 komoditi lain yang menyumbang deflasi terbesar di Jatim yakni  bawang merah yang turun hingga -39%, bawang putih -38%, cabai rawit -59%, gula pasir -12%, dan angkutan udara 0,07%.

Sepanjang 2017 itu, penyumbang inflasi terbesar terjadi di Madiun dengan inflasi 4,78%, disusul Surabaya 4,37%, dan Malang 3,75%.

Teguh mengatakan inflasi tinggi sepanjang tahun lalu terjadi pada bulan-bulan tertentu yakni Januari, lalu Juni dan Juli saat momen Lebaran serta akhir tahun yang sudah terjadi sejak November dan Desember 2017 yakni dengan inflasi 0,71%.

“Kelompok penyumbang terbesar di akhir tahun ini kebanyakan adalah komoditi bahan makanan. Dan menurut pengamatan lokasi dari Jember sampai Madiun semua menunjukan inflasi,” katanya.

“Khusus akhir tahun ini kelompok makanan jadi penyumbang terbesar lalu transportasi. Di samping itu adanya cuaca buruk, bencana alam seperti banjir dan longsor di Pacitan juga cukup membuat harga-harga makanan naik karena terhambat distribusi dan pusat produksi lainnya seperti tembakau,” imbuhnya.

Menurut Teguh, angka inflasi Jatim 4,04% tersebut masih tergolong normal dan masih bagus yakni berada di kisaran +-4%. Dengan inflasi yang masih normal itu diharapkan tidak terlalu memberatkan masyarakat dan juga menggairahkan bagi pelaku usaha.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Jokowi Raja Batak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (13/01/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, inisiator Sinabung Karo Jazz 2017. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Saya bukan ahli budaya Batak. Dengan jujur saya harus mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang budaya…