Salah satu adegan dalam pentas ketoprak Jaka Pengasih yang dibawakan oleh kelompok Kethoprak Conthong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (29/12/2017) malam. (Harian Jogja/I Ketut Sawitra Mustika) Salah satu adegan dalam pentas ketoprak Jaka Pengasih yang dibawakan oleh kelompok Kethoprak Conthong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (29/12/2017) malam. (Harian Jogja/I Ketut Sawitra Mustika)
Senin, 1 Januari 2018 07:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Seni Tradisional Jadi Populer Karena Inovasi

Kethoprak Conthong berhasil memukau penonton

Solopos.com, JOGJA-Dengan membawakan lakon Jaka Pengasih, kelompok Kethoprak Conthong berhasil memukau penonton yang memenuhi Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat (29/12/2017) malam. Grup ini berhasil membawa kesenian tradisional jadi sesuatu yang digemari anak muda.

Naskah Jaka Pengasih dibuat Susilo Nugroho atau yang dikenal publik sebagai Den Baguse Ngarso. Diceritakan bahwa Jaka Pengasih adalah anak angkat dari Tumenggung Wiraguna yang diperintahkan untuk mengamankan daerah pantai utara, supaya tidak ada lagi pemberontakan.

Di tempat tugasnya yang baru, Jaka Pengasih bertemu dengan Rara Sepranti. Keduanya saling jatuh cinta, tapi sayang, sang perempuan dipaksa menikah dengan penguasa kadipaten Pandanarang, Encik Semail, yang terkenal angkuh. Sebabnya, ibu dari Rara Sepranti punya hutang kepada Encik Semail.

Cerita berlanjut layaknya kisah-kisah klasik, dua orang jagoan bertempur demi memperebutkan wanita yang dicintai. Dan tentu saja, Jaka Pengasih sebagai protagonis, berhasil keluar sebagai pemenang. Ceritanya pun berakhir.

Namun, dalam pementasan tersebut, ternyata para pemainnya tetap melanjutkan cerita. Rangga Janur, sang pembuat naskah, emosi berat karena karyanya dirubah seseorang. Orang yang mengubah cerita adalah Turwaka, teman Rangga Janur sendiri, karena menilai tulisan kawannya itu buruk. Kira-kira begitulah sinopsis dari pentas Jaka Pengasih.

Penonton kerap kali dibuat terpingkal-pingkal oleh aksi Den Baguse Ngarso, Marwoto Kewer dan anggota kelompok Kethoprak Conthong lainnya. Hari itu, Concert Hall TBY benar-benar penuh. Penonton bahkan sampai duduk lesehan di depan panggung. Yang datang bukan hanya orang tua saja, anak mudah juga banyak yang hadir.

Pimpinan Produksi pentas Jaka Pengasih Nicky Nazaready mengatakan, setiap pertunjukkan yang diselenggarakan oleh kelompok kethoprak Conthong memang selalu dipadati penonton.

Salah satu daya tarik utama yang dimiliki kelompok Conthong adalah teknik penyampaian yang menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, yang dalam beberapa dialognya, bahkan dicampur dengan Bahasa Indonesia.

“Materinya disampaikan dengan bahasa komunikatif, cenderung lebih mudah diterima dan disenangi banyak orang di banding bahasa ketoprak konvensional [Jawa halus] yang mempelajari bahasanya saja sudah susah,” ucapnya di sela-sela pertunjukan.

Selain itu, masih menurut Nicky, ide-ide yang dipentaskan kelompok Kethoprak Conthong selalu segar. Ia menyatakan setiap kali pentas, naskah yang dibawakan selalu baru. Grup ini mentas tiga kali dalam setahun. Biasanya, pentas diadakan selam dua hari.

Ia menyatakan, naskah-naskah yang dibuat benar-benar baru dan belum pernah dipentaskan sebelumnya. Materinya diambil dari sejarah yang berkaitan dengan Yogyarakarta. “Sejarahnya yang belum diangkat di buku-buku pelajaran sekolah,” tambah Nicky.

Nicky menambahkan, pementasan oleh kelompok Kethoprak Conthong tak ubahnya seperti teater karena semua dialog sudah diatur dalam naskah. Hal ini, berbeda dengan para pemain ketoprak konvensional yang bermain tanpa naskah, dan sudah hafal lakon-lakon yang akan dipentaskan.

Kepala Seksi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY Wardoyo menyatakan, jawatan tempatnya bekerja turut mensuport pementasan-pementasan yang dilakukan oleh kelompok Kethoprak Conthong.

Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya pengembangan seni budaya tradisional menjadi tontonan yang punya daya tarik tersendiri. “Dan berorientasi wisata sehingga seni budaya itu didesain dengan gelaran ikon tradisional dan memiliki kualitas baik untuk menjadi tontonan yang memiliki daya tarik tersendiri,” tutupnya.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….