Sampah berserakan pasca-CFN Slamet Riyadi Solo, Senin (1/1/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Sampah berserakan pasca-CFN Slamet Riyadi Solo, Senin (1/1/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Senin, 1 Januari 2018 22:45 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

Sampah Malam Tahun Baru 2018 di Solo 5 Ton, Turun Dibanding Tahun Lalu

CFN Solo digelar di Jl Slamet Riyadi.

Solopos.com, SOLO — Produksi sampah perayaan tahun baru di Kota Solo mencapai lima ton atau menurun dari tahun lalu delapan ton.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo mencatat penurunan sampah tersebut dipicu kebijakan larangan menyalakan petasan dan kembang api saat pergantian tahun. Hal itu disampaikan Kepala DLH Solo Hasta Gunawan ketika berbincang dengan wartawan, Senin (1/1/2018).

“Produksi sampah baik setelah Car Free Night (CFN) dan lokasi lain turun hingga mencapai tiga ton dari tahun lalu,” kata Hasta.

Sampah berserakan pasca-CFN Slamet Riyadi Solo, Senin (1/1/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Sampah berserakan pasca-CFN Slamet Riyadi Solo, Senin (1/1/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Semula, Hasta memprediksikan produksi sampah usai gelaran perayaan tahun baru mencapai delapan ton. Prediksi tersebut berdasarkan produksi sampah usai gelar perayaan tahun sebelumnya. Namun volume sampah pascagelaran CFN dan keramaian di lokasi lain hanya mencapai lima ton sampah.

“Volume sampah menurun. Saya pikir kesadaran masyarakat juga berperan di sini,” katanya.

Hasta mengatakan setidaknya ada 750 petugas kebersihan yang diterjunkan DLH untuk membersihkan sampah pasca gelaran CFN dan lokasi keramaian di jalan-jalan protokol lain di Kota Solo. Petugas mulai membersihkan dari pukul 00.01 dini hari sampai selesai.

Selain petugas kebersihan, Pemkot juga mengerahkan seluruh armada road sweeper dan empat truk pengangkut sampah. Masing-masing truk pengangkut sampah tersebut berkapasitas 1,6 ton yang ternyata juga berisi penuh.

Dari laporan petugas kebersihan pun mereka menyampaikan hanya menemukan sedikit sampah berceceran di jalan. Bahkan di titik keramaian di Solo pun menurutnya tak menunjukkan lonjakan produksi sampah.

“Biasanya dulu banyak sampah bekas bungkus petasan atau kembang api. Sekarang paling banyak bekas bitol minuman dan makanan saja,” katanya.

Lebih jauh Hasta menjelaskan, upaya Pemkot Solo meniadakan pesta kembang api menjadi alasan penurunan produksi sampah. Hasta juga menyampaikan bila kondisi taman-taman di sepanjang Jalan Slamet Riyadi pasca gelaran CFN tak ada yang rusak.

“Tamannya juga utuh. Tidak ada yang rusak. Tingkat kesadaran masyarakat sudah tinggi,” katanya.

Pengelola sampah TPA Putri Cempo Mojosongo, M. Pramudjo mengatakan volume sampah mulai terjadi peningkatan sejak libur Natal hingga tahun baru ini.

“Rata-rata sampah biasanya 260 sampai 300 ton per hari yang masuk ke TPA Putri Cempo. Tapi ada peningkatan per hari 15%,” katanya.

Pramudjo mengatakan penyumbang sampah terbesar berasal dari sejumlah kawasan objek wisata dan limbah rumah tangga. Selain sampah kertas bekas makanan dan minuman pengunjung objek wisata, juga sampah rumah tangga, pasar tradisional serta restoran.

Dikatakannya, sampah di lokasi wisata naik tajam lantaran dibanjiri pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru. Objek wisata tersebut seperti Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) serta Taman Balekambang.

lowongan pekrjaan
Akuntansi, Administrasi,Marketing,Tehnisi ,Gudang/Driver, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….