Bupati Kudus Musthofa menyalami pedagang di Pasar Hewan Ternak Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jateng, Minggu (31/12/2017). Limbah hewan ternak di pasar tersebut akan diolah menjadi energi alternatif atau biogas untuk disalurkan kepada warga sekitar. (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif) Bupati Kudus Musthofa menyalami pedagang di Pasar Hewan Ternak Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jateng, Minggu (31/12/2017). Limbah hewan ternak di pasar tersebut akan diolah menjadi energi alternatif atau biogas untuk disalurkan kepada warga sekitar. (JIBI/Solopos/Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Senin, 1 Januari 2018 15:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PASAR TRADISIONAL KUDUS
Wow! Limbah Pasar Ternak Kudus Jadi Biogas untuk Warga

Pasar tradisional khusus hewan ternak di Kudus mengolah limbah hewan ternak menjadi energi alternatif atau biogas untuk disalurkan kepada warga sekitar.

Solopos.com, KUDUS — Bupati Kudus Musthofa, Minggu (31/12/2017), bertandang ke Pasar Hewan Ternak Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di pasar tradisional Kudus itu, limbah hewan ternak diolah menjadi energi alternatif atau biogas untuk disalurkan kepada warga sekitar.

“Kami berharap, biogas yang dihasilkan nantinya tidak dikomersialkan,” kata Bupati Kudus Musthofa seusai meresmikan pasar tradisional khusus hewan ternak di Kudus itu sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara, Senin (1/1/2018).

Ia berharap nantinya disediakan pipa jaringan untuk menyalurkan biogas ke rumah-rumah warga sekitar. Selain untuk disalurkan kepada warga sekitar, energi alternatif tersebut juga bisa digunakan untuk kebutuhan di lingkungan pasar. Setidaknya, kata dia, limbah dari kotoran hewan ternak yang dijual di pasaran tidak sekadar menjadi sampah dan dibuang begitu saja, melainkan diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Pada kesempatan tersebut, dia juga mengingatkan, agar kebersihan pasar ternak yang baru tersebut dijaga serta pengamanan lingkungan pasar juga harus maksimal agar tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif seperti tempat yang lama. Terkait lokasi pasar yang berada di Jalan Lingkar Selatan Kudus, akta dia, untuk memudahkan para pedagang hewan ternak di pantura tertarik menjual hewannya di pasar tersebut, terutama sapi dan kambing.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perdagangan Kudus Arief Budianto menambahkan, bahwa luas pasar tradisional khusus hewan ternak di Kudus itu sekitar 24.500 m2, namun lahan yang dimanfaatkan baru 8.700 m2. Pasar ternak yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp16,2 miliar itu, bisa menampung sapi hingga 400-an ekor serta kerbau hingga 120 ekor. Untuk hewan ternak kambing sekitar 250-an ekor di area seluas 360 m2.

Rencananya, kata dia, pembangunan akan dilanjutkan kembali, karena masih ada beberapa fasilitas yang perlu ditambah, seperti hotel hewan. “Pedagang hewan ternak dari luar kota bisa memanfaatkannya, sehingga bobot hewan bisa terjaga karena hewannya dibuat rileks,” ujarnya.

Biasanya, kata dia, hewan ternak seperti sapi dan kerbau setelah diangkut dari jarak yang cukup jauh mudah stres, sehingga membutuhkan tempat singgah untuk beristirahat. Hewan ternak yang hendak dijual, lanjut dia, juga harus diperiksa kesehatan hingga bobotnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….