Ipeth menunjukkan koleksi luriknya. (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Ipeth menunjukkan koleksi luriknya. (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Senin, 1 Januari 2018 11:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Ekonomi Share :

Mengangkat Potensi Lurik Jogja Lewat Busana Modis dan Kekinian

Ipeth tak menyangka produk baju yang semula hanya dibuat karena hobi pada busana kasual dapat menarik konsumen 

Solopos.com, JOGJA-Lama bekerja di salah satu komunitas seni di Jakarta, membuat Rhodiah Safitri atau yang akrab disapa Ipeth jadi jatuh hati dengan kain-kain tradisional. Banyak bertemu seniman yang mengenakan kain-kain tradisional, menginspirasinya membuat pakaian kasual dengan dasar kain lurik.

“Dulu saya kebetulan bekerja di Komunitas Salihara di Jakarta. Di sana sering melihat dan bertemu seniman-seniman yang suka sekali pakai pakaian dengan kain-kain tradisi. Lalu setiap ada acara, banyak tamu yang memakai beragam kain tenun, dan saya lihat ada yang mengenakan kain lurik Jogja,” ujar Ipeth saat ditemui di Toko Barang Bareng di Jalan Suryodiningratan, Jumat (29/12).

Pernah tinggal dan bekerja di Jogja, membuat Ipeth mengenal perajin lurik Jogja. Kala itu, pencinta kain lurik Jogja belum seramai saat ini. Karena kain lurik identik berbahan tebal dan kasar, maka tak banyak desain yang bisa dibuat dengan kain ini.

Kali pertama mengenal lurik dan mencoba membuat pakaian berbahan baku lurik, Ipeth mengaku belum berniat menggelutinya sebagai bisnis. Beberapa pakaian dari kain lurik dibuatnya untuk dikenakan, baik olehnya maupun anggota keluarga.

“Tapi saat saya pakai, banyak teman-teman yang tertarik dan mengarahkan saya untuk menjualnya. Saya sempat gabung dengan Lawe Indonesia, mereka lebih dulu terjun di bidang lurik, tetapi bedanya mereka tidak bikin produk fashion. Sedangkan saya lebih tertarik dengan fashion, jadi lewat Lawe saya belajar tentang menjahit hingga membuat pola,” ungkap ibu satu anak ini.

Lewat saran sejumlah teman, Ipeth mulai menekuni serius bisnis fashion luriknya dengan brand Kebun Kemangi yang diambil dari nama anaknya. Tahun 2016, pemasaran dimulai lewat sosial media Instagram. Dijual dengan harga mulai dari Rp200.000 hingga Rp400.000.

Ipeth tak menyangka produk baju yang semula hanya dibuat karena hobi pada busana kasual dapat menarik konsumen dari berbagai kalangan. Bahkan, kali pertama mengikuti pameran di Jogja Fashion Week beberapa waktu lalu, membuatnya semakin getol ingin mengembangkan usahanya.

Kendati demikian, Ipeth menyadari persaingan bisnis fashion lurik di Jogja semakin ketat seiring banyaknya orang-orang kreatif yang mengangkat nilai jual kain ini. Di satu sisi, Ipeth mengaku senang akhirnya kain khas Jogja ini jadi makin dikenal, tapi tak dipungkiri inovasi dan model-model baru harus terus diperbarui agar produk dapat terus eksis.

“Namun, setiap produk pasti punya ciri khas. Kalau Kebun Kemangi, lebih menampilkan lurik dengan warna-warna pelangi, yang cerah dan ceria dan dari desain saya tetap menegaskan pada model baju kekinian yang dipadu dengan sentuhan lurik Jogja berwarna cerah,” jelas Ipeth.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Haul dan Risalah Maulid Simtuddurar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (09/01/2018). Esai ini karya Muhammad Dalhar, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret dan anggota Jemaah Ahbabul Musthofa. Alamat e-mail penulis adalah mbahdalhar7@gmail.com Solopos.com, SOLO–Haul Habib Ali kembali digelar….