Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede, menunjukkan tang dan gunting milik pembobol mesin ATM di Mapolres, Jumat (29/12/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede, menunjukkan tang dan gunting milik pembobol mesin ATM di Mapolres, Jumat (29/12/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Jumat, 29 Desember 2017 21:15 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

KRIMINALITAS WONOGIRI
2 Bulan, Komplotan Pembobol Mesin ATM Ini Beraksi di 32 Lokasi

Komplotan pembobol mesin ATM yang ditangkap di Ngadirojo, Wonogiri, beraksi di 32 lokasi dalam dua bulan ini.

Solopos.com, WONOGIRI — Komplotan pembobol mesin anjungan tunai mandiri (ATM) yang tertangkap di Ngadirojo, Wonogiri, Rabu (27/12/2017) lalu, sudah beraksi di 32 lokasi dalam dua bulan terakhir.

Mereka tak hanya beraksi di Wonogiri melainkan juga wilayah lain di Jawa Tengah dan DIY. Komplotan itu bagian dari sindikat spesialis penguras uang nasabah via ATM yang sudah lama beroperasi di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam gelar tersangka dan barang bukti yang dipimpin Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede, di Mapolres, Jumat (29/12/2017) siang. Seperti diketahui, aparat Polres Wonogiri menangkap tiga dari empat anggota komplotan penguras uang nasabah itu. (Baca: Warga Ngadirojo Gagalkan Pembobolan ATM oleh Kawanan Pencuri)

Ketiganya adalah Nasrony alias Serai, 46, warga Kramatjati, Jakarta Timur; Imron alias Suhaili, 38, warga Segalamider, Bandar Lampung; dan Hapizurrohman, 26, warga Kalirejo, Lampung Tengah. Satu tersangka lainnya, yakni Sw, masih buron.

Sw berhasil kabur saat polisi menangkap komplotan itu di dekat boks ATM BRI perempatan Ngadirojo. Kapolres kepada wartawan menyampaikan Nasrony cs. sudah beraksi di banyak lokasi dua bulan terakhir. Lokasi itu di antaranya Karawang Timur, Cikampek, Indramayu, Brebes, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Sukoharjo, Solo, dan lainnya.

Mereka memilih sasaran secara acak. Mereka pernah beraksi di mesin ATM tepi jalan, area kampus, dan SPBU. Kebanyakan mereka menyasar mesin ATM di tepi jalan.

Setiap beraksi mereka dapat menguras uang nasabah senilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah dan kadang tak berhasil mengelabui nasabah. “Komplotan ini beraksi sudah lama. Mereka bagian dari sindikat. Komplotan Ns [Nasrony] spesialis menyasar ATM BRI. Komplotan lain menyasar ATM dari bank lain. Kalau diakumulasi sejak aksi sebelum-sebelumnya hasil yang pernah didapat komplotan Ns dkk. mencapai ratusan juta rupiah,” kata Kapolres didampingi Kasatreskrim, AKP M. Kariri.

Dia melanjutkan komplotan Nasroni beraksi dengan modus mengganjal slot kartu ATM menggunakan tusuk gigi dan menawarkan bantuan kepada nasabah. Tusuk gigi itu untuk mengganjal kartu ATM korban yang telah dimasukkan agar tidak dapat keluar.

Setelah itu pelaku melancarkan aksi dengan menawarkan bantuan mengeluarkan kartu ATM hingga akhirnya bisa menguras uang nasabah pemilik kartu. Setiap anggota komplotan memiliki peran.

Nasroni berperan mengganjal slot kartu ATM dan memasang stiker berisi informasi nomor telepon salah satu pelaku yang dibuat sedemikian rupa hingga mirip nomor telepon layanan bank.

Imron berperan sebagai informan yang memberi tahu rekan-rekannya jika ada nasabah yang masuk ke boks ATM. Hapi berperan sebagai sopir mobil yang mengangkut ketiga rekannya.

“Ada juga menawarkan bantuan kepada korban. Dia menawari korban supaya menghubungi nomor layanan bank yang ternyata nomor temannya sendiri. Dia juga yang menguras uang korban. S ini pemimpin komplotan,” kata Kapolres.

Sementara itu Nasrony hanya diam seraya menundukkan kepala saat ditanya Solopos.com soal aksinya.

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pelayanan Medis Olahraga

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (18/10/2017). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, dosen di Program Studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id. Solopos.com, SOLO–Pencinta sepak bola Indonesia pantas berduka….