Seorang pembuat trompet asal Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri, menata trompet yang akan dibawa ke luar daerah, Jumat (22/12/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Seorang pembuat trompet asal Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri, menata trompet yang akan dibawa ke luar daerah, Jumat (22/12/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Sabtu, 23 Desember 2017 05:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

Pamor Trompet Bulukerto Wonogiri Meredup, Ini Penyebabnya

Para pengrajin trompet di Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri, kini banyak yang mengurangi produksi.

Solopos.com, WONOGIRI — Produksi trompet di daerah penghasilnya Ngaglik, Bulukerto, Wonogiri, tiap tahun terus berkurang. Penurunan produksi trompet menyebabkan penghasilan para pengrajin juga turun hingga 50 persen.

Menurunnya penghasilan pembuat dan penjual terompet itu membuat sebagian warga Ngaglik beralih pekerjaan sehingga produksi trompet berkurang. Menurutnya, para warga kini banyak yang beralih membuat mainan anak-anak.

“Tahun ini banyak warga yang tidak membuat trompet karena pembelinya juga menurun,” ujar Kepala Desa Ngaglik, Romi Prama Putra, kepada Solopos.com, Jumat (22/12/2017)

Ia menilai ada dua penyebab menurunnya pembeli terompet kertas yakni persaingan dengan trompet plastik dan temuan tahun lalu trompet berbahan kertas Alquran. Dulu, di Ngaglik hampir setiap warga membuat trompet. (Baca: Ribuan Trompet Berbahan Sampul Alquran Disita Polisi)

“Namun setelah ada trompet plastik, jumlah pembuat trompet tinggal 60 persen warga,” ungkapnya.

Sementara itu, temuan trompet dari kertas Alquran menyebabkan penghasilan penjual trompet berkurang drastis hingga 50 persen. “Temuan tersebut membuat kondisi pasar sepi, tidak hanya di Wonogiri namun juga di daerah lain. Kalau dulu, satu orang bisa mengantongi hingga Rp15 juta sekarang hanya bisa Rp7 juta,” imbuhnya.

Trompet buatan warga Ngaglik sudah merambah hingga ke semua pulau di Indonesia, mulai Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan, sebagian trompet juga dikirim ke Malaysia. “Sebenarnya, trompet kertas lebih unggul dari sisi keindahannya dibanding trompet plastik. Namun trompet plastik lebih awet,” jelasnya.

Penjual trompet, Bejo, 58, warga Bendo RT 002/RW 001, Ngaglik, Bulukerto, mengaku tidak berani membuat trompet dalam jumlah banyak. Kali ini ia hanya membuat 500 trompet, padahal biasanya ia membuat 1.000 trompet. (baca: Terkuak, Bahan Trompet dari Alquran Sisa Produksi CV Aneka Ilmu)

Ia akan menjajakan trompet buatannya ke Surabaya dan Sidoarjo mulai Kamis (28/12/2017) mendatang. “Membuat hanya 500 trompet karena belakangan ini pembeli menurun, kalah dari trompet plastik,” ujarnya.

Sementara penjual lain, Sri Lestari, warga Soko RT 001/RW 008 Ngaglik, Bulukerto, mengaku hanya membuat 350 trompet. Setiap trompet dijual seharga Rp15.000-Rp20.000 untuk trompet naga ukuran sedang. Sementara trompet naga ukuran besar dijual seharga Rp80.000-Rp90.000.

Lowongan pekerjaan
PT. MIC Abadi Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pribumi dalam Kuasa Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (26/10/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gtmail.com.  Solopos.com, SOLO–Pada 19 juli 1913 terbit artikel berjudul Als ik een Nederlander was (Andai Saya…