Upacara Hari Bakti PU ke 72 di Kantor BBWS Bengawan Solo (Istimewa/BBWSBS) Upacara Hari Bakti PU ke 72 di Kantor BBWS Bengawan Solo (Istimewa/BBWSBS)
Kamis, 21 Desember 2017 07:00 WIB Solo Share :

BBWS Bengawan Solo Gelar Upacara, Ternyata Ini Sejarah Di Balik Hari Bakti PU

BBWS Bengawan Sungai mengadakan upacara Hari Bakti PU.

Solopos.com, SOLO — Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) ikut menyemarakkan Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) ke-72. Salah satunya dengan kegiatan upacara Hari Bakti PU bertempat di lapangan tengah BBWSBS Bengawan Solo di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (4/12/2017).

Pemberian Penghargaan Satyalancana Satya Karsa kepada 17 pegawai yang telah berkarya di Kementerian PUPR selama 10, 20 dan 30 tahun. (Istimewa/BBWSBS)

Pemberian Penghargaan Satyalancana Satya Karsa kepada 17 pegawai yang telah berkarya di Kementerian PUPR selama 10, 20 dan 30 tahun. (Istimewa/BBWSBS)

Upacara tersebut juga diikuti oleh karyawan Balai  Sungai (Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan Perum Jasa Tirta I yang letaknya bersebelahan dengan kantor BBWS Bengawan Solo.

Tema Hari Bakti PU yakni Bakti Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bangun Daya Saing Bangsa. Dalam tema tersebut juga mengajak peningkatan kerja sama dan kekompakan dalam penuntasan misi pembangunan infrastruktur yang diamanahkan kepada Kementerian PUPR.

Dalam sambutannya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), M Basuki Hadimuljono, menjelaskan tentangs sejarah Hari Bakti PU.

“Tepat 72 tahun yang lalu sebanyak 21 orang pegawai yang ditugasi menjaga Gedung Sate di Bandung yang merupakan gedung Departemen Pekerjaan Umum saat itu, mendapat serangan dari pasukan sekutu dengan persenjataan berat. Namun, kekompakan, kebersamaan dan keberanian dengan daya juang tinggi dapat mempertahankan setiap jengkal Gedung Sate
dan membuat mereka bertempur hingga tetes darah penghabisan. Peristiwa tersebut menyebabkan gugurnya tujuh orang pegawai PU, yakni Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono yang kemudian disebut sebagai Pahlawan Sapta Taruna. Hal itu menjadi tonggak sejarah, bukti dari semangat berbakti untuk bumi pertiwi,” ujar Menteri seperti dalam sambutan tertulisnya.

Capaian

Menteri PUPR juga menjelaskan berbagai capaian Kementerian PUPR yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Di antaranya, penyelesaian pembangunan 9 bendungan yakni (Jatigede, Titab, Nipah, Bajulmati, Rajui, Paya Seunara, Teritip, Raknamo, dan Tanju). Serta 30 bendungan lainnya di Indonesia yang masih dalam tahap pembangunan.

Selesainya pembangunan 2.623 km jalan baru (termasuk Jalan Trans dan Perbatasan Papua, Trans dan Perbatasan Kalimantan, serta Perbatasan NTT), jembatan baru bentang panjang.

Penambahan jalan tol baru sepanjang 568 km dari tahun 2015 – 2017. Sampai akhir tahun 2019, Kementerian PUPR optimistis menyelesaikan tol baru sepanjang 1.851 km.

Dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan permukiman, telah dimulai pekerjaan Sistem Pengembangan Air Minum (SPAM) Umbulan di Jawa Timur yang telah direncanakan sejak 40 tahun yang lalu.

“Kini kita tengah berupaya keras untuk mengembangkan beberapa SPAM lainnya melalui skema KPBU, seperti SPAM Bandar Lampung, Semarang Barat, dan Jatiluhur.”

Di bidang perumahan telah dibangun sampai akhir Oktober 2017 sebanyak 2,2 juta unit rumah, terutama untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam bentuk rusun, rusus, rumah swadaya, bantuan PSU, serta fasilitas FLPP, SSB, dan BLM.

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pribumi dalam Kuasa Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (26/10/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gtmail.com.  Solopos.com, SOLO–Pada 19 juli 1913 terbit artikel berjudul Als ik een Nederlander was (Andai Saya…