Ilustrasi normalisasi sungai (Dok/JIBI/Solopos) Ilustrasi normalisasi sungai (Dok/JIBI/Solopos)
Rabu, 20 Desember 2017 05:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

Dana Bansos Relokasi dari Pemkot Solo Habis Hanya untuk Beli Tanah

Dana bantuan relokasi warga bantaran Kali Anyar terdampak proyek BBWSBS habis hanya untuk beli tanah.

Solopos.com, SOLO — Mayoritas warga bantaran Kali Anyar wilayah Kelurahan Nusukan, Banjarsari, yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe hulu) tidak sanggup menerapkan arahan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terkait penggunaan dana bantuan sosial (bansos) pengganti bangunan atau rumah.

Ketua Pokja Relokasi Warga Bantaran Wilayah Nusukan, Joko Santoso, menceritakan Pemkot meminta warga membagi dana bansos senilai Rp34,2 juta/rumah, yakni Rp16 juta untuk pengadaan tanah minimal 40 meter persegi, Rp3,2 juta untuk lahan fasilitas umum (fasum) minimal 8 meter persegi, dan Rp15 juta untuk stimulan pembangunan rumah baru. (Baca: Tanah Pengganti Relokasi Warga Bantaran Kali Anyar Ditetapkan 40 Meter Persegi)

Namun, warga kesulitan menerapkan arahan itu. Demi memperoleh lahan minimal 40 meter persegi, warga terpaksa menggunakan bagian dana bansos yang semestinya untuk lahan fasum dan menjadi stimulan pembangunan rumah.

“Uang dari pemerintah hanya cukup untuk mengurus masalah tanah. Rata-rata warga menghabiskan uang hingga Rp25 juta untuk membeli tanah. Sedangkan uang sisa senilai Rp9,2 juta hanya cukup untuk keperluan biaya balik nama kepemilikan tanah dan bongkar rumah di bantaran. Jadi hampir tidak ada sisa uang untuk membangun rumah di tempat baru,” kata Joko saat diwawancara Solopos.com di Nusukan, Selasa (19/12/2017).

Joko menyampaikan warga yang kehabisan dana bansos hanya untuk membeli tanah otomatis harus tombok uang agar bisa membangun rumah di tempat baru. Sedangkan bagi warga yang kurang mampu diminta mengoptimalkan penggunaan material bekas rumah di bantaran sebagai bahan untuk membangun rumah baru.

Dia merasa miris dengan warga yang tidak punya cukup dana untuk membangun rumah baru. Namun, kata Joko, ada juga beberapa warga Nusukan yang beruntung bisa memperoleh lahan sekaligus rumah hanya dengan memanfaatkan dana bansos pengganti bangunan dari Pemkot. (Baca:  Warga Bantaran Kali Anyar Nusukan Pindah ke 20 Lokasi Berbeda)

“Mau bagaimana lagi? Dana bansos nilainya sudah ditentukan segitu. Kami hanya bisa memberi arahan kepada warga agar mengoptimalkan pemanfaatan bahan material bekas rumah di bantaran. Bahan material bekas diharapkan bisa dipakai untuk keperluan pembangunan rumah di tempat baru,” jelas Joko.

Joko menyampaikan saat ini rata-rata warga tengah mengurus pembayaran tanah dengan notaris. Menurut dia, warga ditarget Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Solo untuk bisa pindah atau selesai membongkar rumah di bantaran pada Januari mendatang.

Joko optimistis target tersebut bisa tercapai. Dia mengatakan 194 pemilik rumah di bantaran Kali Anyar wilayah Nusukan kini telah memperoleh tanah incaran masing-masing. Sebanyak 84 warga Kampun Tapen akan pindah ke Mojosongo, sedangkan 110 warga Kampung Praon dan Minapadi akan pindah ke 11 tempat berbeda di Karanganyar dan Boyolali.

“Sudah fix 84 warga Tapen dapat lahan di Mojosongo. Terus 110 warga Praon dan Minapadi berhasil mencari sendiri-sendiri di Boyolali dan Karanganyar. Mereka berpencar ke 11 tempat berbeda di wilayah Ngemplak dan Gondangrejo. Ada warga yang membeli lahan 100 meter persegi untuk dibagi dua bagian, ada juga yang membeli lahan 200 meter persegi untuk dibagi menjadi 4 bagian. Mereka kesepakatan masing-masing,” terang Joko.

Sementara itu, Ketua Pokja Relokasi Warga Bantaran Wilayah Gandekan, Sumarsih, menyampaikan hingga kini 30 warga bantaran Kali Pepe Gandekan terdampak proyek Penanganan Banjir Paket 1 (Kali Pepe hilir) belum bisa mendirikan bangunan di lahan sasaran, yakni Kampung Padasan, Desa Mranggen, Polokarto, Sukoharjo. Warga Gandekan akan pindah setelah mendapatkan persetujuan dari Pemkab Sukoharjo.

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…