Foto Kholili dan Siti Saadah alias Nindy yang diunggah di akun Instagram M.kholili (Instagram)
Jumat, 15 Desember 2017 22:04 WIB JIBI/Solopos/Newswire Hukum Share :

MUTILASI KARAWANG
Menangis di Depan Polisi, Kholili Diduga Ahli Menyembunyikan Sesuatu

Tersangka mutilasi Karawang, Kholili, dinilai ahli dalam menyembunyikan sesuatu, termasuk berpura-pura kehilangan istri.

Solopos.com, KARAWANG — Mutilasi yang dilakukan Muhamad Kholili, 23, terhadap Siti Saidah alias Nindy, 21, istrinya, diduga dilakukan untuk menutupi pembunuhan. Selain itu, Kholili juga sempat berpura-pura di depan polisi.

Penyidik Polres Karawang mulanya tak memiliki kecurigaan terhadap Kholili saat kali pertama potongan badan Siti ditemukan. Sebab, Kholili dianggap cukup cerdik menyembunyikan sesuatu.

“Menurut saya dia [Kholili] memiliki suatu keahlian menyembuyikan sesuatu. Apalagi kasus mutilasi ini untuk menghilangkan jejak,” kata Kasatreskrim Polres Karawang AKP Maradona Armin Mappaseng saat ditemui Suara.com di kantornya, Jumat (15/12/2017).

Dia mengatakan, Kholili sengaja memotong-motong anggota tubuh istrinya agar jejak kejahatannya tak terendus polisi. “Jadi tentu ini bagian dari rencananya dia memutilasi agar tidak ada jejak, berharap tidak ditemukan tapi kami temukan,” tukasnya.

Menurut Maradona, Kholili dianggap berbohong kepada polisi saat ditanyakan soal tato di tubuh istrinya dan barang bukti lain yang ditemukan. “Ketika mengetahui itu istrinya, dia mengatakan, harapan ‘mudah-mudahan bukan istri saya’. Ada kata-kata seperti itu. Waktu itu saya katakan, ‘saya yakin ini istri bapak karena ciri-ciri tatonya sama barang-barangnya sudah mirip’,” tuturnya.

Bahkan, lanjut Maradona, ketika sampai di rumah sakit, petugas berupaya menenangkan Kholili karena menangis sambil mengakui kehilangan istrinya. Ketika itu, polisi masih melakukan proses identifikasi terhadap potongan badan Siti. Baca juga: Kisah Cinta Kholili – Siti Saadah Hingga Pertengkaran Soal Barang Mahal.

“Pada awalnya kami tidak ada rasa curiga terhadap si suami. Justru kami turut berduka cita, menenangkan dulu hatinya. Di situ [RSUD] juga dia sempat menangis. Jadi ketika kami lihat ekspresinya seperti itu, kami tunjukkan rasa simpatik dulu,” jelasnya.

Pada Senin (4/12/2017) pekan lalu. Kholili mengaku hari itu dia bertengkar dengan sang istri. Adu mulut tersebut berlanjut pada aksi kekerasan. Kholili mengklaim lehernya dicekik Siti, lalu berontak dan balas dua kali memukul leher Siti.

Akibat pukulan Kholili, Siti jatuh terkapar. Kaget, Kholili sempat memeriksa nafas dan detak jantung Siti, tapi ternyata semua sudah terhenti. “Saya kalap pak. Saya lalu tutup mulutnya memakai lakban,” tukasnya.

Selang sehari, Selasa (5/12/2017), Kholili memutuskan memutilasi tubuh sang istri menjadi tiga bagian: kepala, badan, dan kaki menggunakan golok. Kholili membuang kepala dan kaki Siti ke daerah Tegalwaru. Sementara badan Siti dibuang di Desa Ciranggon.

Takut ketahuan, pada hari berikutnya, Rabu (6/12/2017), Kholili kembali mendatangi tempat ia membuang Siti. Ia membakar seluruh bagian tubuh sang istri. Wakapolres Karawang Komisaris M Rano Hadianto mengatakan, aparat kepolisian mulai mengungkap kasus pembunuhan sadis itu pada Kamis (7/12/2017) pekan lalu dan pelakunya baru diketahui pada Selasa (12/12/2017).

lowongan pekerjaan
SMK CITRA MEDIKA SRAGEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…