Buku sejarah yang menuai kontroversi terkait konflik Israel-Palestina. (Istimewa) Buku sejarah yang menuai kontroversi terkait konflik Israel-Palestina. (Istimewa)
Kamis, 14 Desember 2017 18:00 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Sekolah di Gunungkidul Heboh Buku Sejarah Memuat Kontroversi Jerusalem

Kepala Disdikpora Gunungkidul secara sepihak ubah Jerusalem menjadi ibu kota Palestina di buku sejarah.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk siswa SD kelas VI menuai kontroversi. Pasalnya dalam pengetahuan ibu kota Negara di Asia mencantumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sedang untuk Palestina tidak disebutkan nama ibu kotanya. Padahal status Jerusalem masih kontroversi.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul Bahron Rasyid tidak menampik adanya kontroversi buku pelajaran untuk siswa kelas VI SD. Temuan ini bermula dari laporan para guru dan ditindaklanjuti dengan pemantauan ke sejumlah sekolah.

Hasilnya diketemukan buku IPS terbitan Yudhistira ini sudah tersebar di empat kecamatan, di antaranya Semanu, Wonosari, Ponjong dan Karangmojo. “Kami sudah lakukan pengecekan dan ternyata benar,” kata Bahron kepada wartawan, Kamis (14/12/2017).

Dia menjelaskan, kontroversi muncul tidak lepas dari ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, pasca-pengakuan Amerika Serikat atas ibukota Israel di Jerusalem. Dalam buku yang dibeli para siswa ini juga menyebutkan sama persis, karena dalam buku tersebut menyebut Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Sedang untuk Palestina tidak diberikan nama ibu kota.

“Kami tidak mau ambil risiko sehingga meminta tulisan tersebut dihilangkan dengan cara diblok dan diganti. Untuk Jerusalem disebut sebagai ibu kota Palestina. Sedang untuk Israel disebutkan Tel Aviv,” ujar mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah ini.

Atas temuan ini, Disdikpora pun mengimbau kepada sekolah-sekolah agar lebih berhati-hati dalam membeli buku. Selain itu guru juga diminta untuk lebih cermat sebelum menggunakannya. “Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi kontroversi dalam buku mata pelajaran,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Jerusalem hingga kini masih dalam wilayah konflik. Status akhir Jerusalem akan ditentukan oleh perundingan kedua belah pihak yaitu Palestina dan Israel. Meski saat ini kedua negara baik Israel maupun Palestina mengklaim Jerusalem adalah ibu kota mereka. Namun, masyarakat internasional tidak mengakui klaim Israel maupun Palestina dan menyebut kota ini sebagai kawasan pendudukan alias tidak dimiliki Israel maupun Palestina.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…