Ilustrasi penyaluran air bersih. (Burhan Aris N./JIBI/Solopos) Ilustrasi penyaluran air bersih. (Burhan Aris N./JIBI/Solopos)
Rabu, 13 Desember 2017 08:41 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Meski Musim Hujan, Wilayah di Pesisir Gunungkidul Ini Harus Dikirim Air Bersih

Pasca-banjir warga kesulitan air bersih.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Sejumlah warga di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus mengalami kesulitan air bersih. Selain karena rusaknya penampuangan air hujan milik warga, aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga masih macet.

Menurut Kepala Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Gunungkidul Evi Nur Cahyani, ada sebanyak 42 keluarga yang terdampak akibat banjir yang terjadi pada Selasa (28/11/2017). Banjir merusak sejumlah infrastruktur desa dan menyebabkan pasokan air bersih untuk warga terganggu. Selain karena sejumlah tampungan air hujan milik warga kotor, aliran air milik PDAM juga macet. “Akibatnya ada sebagain warga yang kekurangan air bersih,” ujarnya, Selasa (12/12/2017).

Dengan adanya warga yang kekurangan air bersih pihaknya pun telah malaporkan hal tersebut ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Dengan demikian dia berharap BPBD dapat memberikan bantuan air bersih maupun logistik kepada warga.

“Saya sudah laporkan ke BPBD, bantuan air bersih dari swasta pun kemarin juga sudah ada 25 tangki. Harapnnya hujan yang turun cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga,” kata Evi.

Sementara itu Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Gunungkidul Sutaryono, mengatakan sudah ada bantuan logistik yang di kirim ke Sidoharjo pada Selasa pagi. Dia mengakui memang di desa tersebut masih membutuhkan logistik dan juga air bersih setelah diterjang banjir beberapa hari lalu.

“Memang disana sempat ada kekurangan air, tapi kami sudah kirimkan hari ini [selasa], ada permakanan dan sejumlah kebutuhan lainnya,” ungkap dia.

Sebelumnya, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Isnawan Fibriyanto mengatakan sejak sepekan pascabanjir pihaknya sudah berupaya untuk memperbaiki sejumlah kerusakan jaringan air. Namun diakuinya masih ada kendala yang membuat sejumlah titik kerusakan belum dapat dibenani. “Peralatan pengganti yang rusak masih belum datang dan sejumlah titik sambungan listrik dari PLN juga belum nyambung,” ujarnya, Kamis (7/12/2017) lalu.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…