Kondisi pengungsian warga terdampak longsor di Balai Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri, Minggu (10/12/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Kondisi pengungsian warga terdampak longsor di Balai Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri, Minggu (10/12/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Selasa, 12 Desember 2017 18:15 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BENCANA WONOGIRI
Sebagian Warga Terancam Longsor Tirtomoyo Diperbolehkan Pulang

Sebagian warga Tirtomoyo, Wonogiri, yang mengungsi karena terancam longsor sudah diperbolehkan pulang.

Solopos.com, WONOGIRI — Bapan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri memperbolehkan sejumlah warga Dlepih, Tirtomoyo, yang mengungsi karena terancam longsor kembali pulang ke rumah masing-masing.

Warga yang diperbolehkan pulang itu hanya yang tinggal di wilayah terancam. Sementara warga terdampak longsor belum diperbolehkan pulang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan sebagian warga di pengungsian diperbolehkan pulang karena kondisi semakin membaik. Menurutnya, sejak Minggu (10/12/2017) sebagian warga di Posko Pengungsian Dlepih secara bertahap kembali ke rumah. (Baca: Seribuan Pengungsi Tirtomoyo Diserang Berbagai Macam Penyakit)

“Mereka kembali karena kondisi sudah normal tetapi hanya bagi warga di wilayah terancam,” ujarnya ketika dihubungi Solopos.com, Selasa (12/12/2017).

Sementara bagi warga yang terdampak bencana belum diperbolehkan pulang lantaran Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sepanjang Desember ini hujan dengan instensitas rendah hingga sedang masih mengancam. “Kami tetap melakukan upaya antisipatif. Oleh karena itu, kami belum menentukan waktu penarikan [pengungsi]. Apalagi, sebagian mereka ada yang rumahnya rusak parah,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, Bambang menyebut setidaknya masih ada enam posko pengungsian di Wonogiri, antara lain tiga tempat di Tirtomoyo dan tiga tempat lainnya di Manyaran, Giritontro, dan Sidoharjo. “Jumlah pengungsi saat ini kira-kira sudah berkurang 20 persen,” ujarnya.

Sementara itu, akses menuju Purwoharjo, Karangtengah, sudah mulai normal dan bisa dilalui kendaraan roda empat sejak Minggu. Namun, menurut Bambang, masih ada beberapa lokasi yang jalannya terputus karena tanah penyangganya longsor. (Baca: Rumah Tertimbun Tanah, 31 Keluarga Wonogiri Mendesak Relokasi)

Saat ini, warga Purwoharjo dan sekitarnya masih bekerja bakti membersihkan rumah dan fasilitas umum terdampak longsor. Terpisah, Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menyampaikan masa tanggap darurat bencana di Wonogiri hingga 5 Januari.

Apabila kondisi belum normal akan diperpanjang lagi. Sebanyak 31 keluarga yang mengajukan permintaan relokasi masih menunggu kajian tim geologis. Mereka tersebar di tiga kecamatan yakni Tirtomoyo, Manyaran, dan Sidoharjo.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, saat kunjungan di Wonogiri, Minggu, menyampaikan arahan Presiden Joko Widodo agar warga tidak terlalu lama berada di posko pengungsian. Menurutnya, cuaca ekstrem di wilayah Wonogiri dan sekitarnya masih berlangsung lama hingga Februari 2018.

 

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…