Pemandangan saat banjir merendam permukiman termasuk pusat kota di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Destyan Sujarwoko)
Minggu, 10 Desember 2017 23:00 WIB Yanita Petriella/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

Ini Penyebab Banjir Pacitan Begitu Masif dan Merusak

Penyebab banjir di Pacitan dan Gunung Kidul begitu masif dan merusak disebabkan dua fenomena alam yang terjadi bersamaan.

Solopos.com, JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah memobilisasi personel dan alat berat untuk memperbaiki jembatan yang putus dan tanggul sungai yang ambles akibat banjir yang terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pacitan, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Sabtu (9/12/2017) mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi lokasi yang terdampak bencana. Lokasi yang ditinjau diantaranya Jembatan Bonjing di Kabupaten Gunung Kidul dan tanggul Sungai Grindulu.

“Sebagai contoh ini (Bonjing) adalah jembatan kecil, tapi karena darurat dan Kabupaten tidak punya dana (untuk rekonstruksi), jadi akan dikerjakan oleh BNPB atau Kementerian PUPR,” kata Presiden Jokowi dalam siaran pers, Minggu (10/12/2017).

Jembatan Bonjing sepanjang 50 meter dengan lebar 2 meter merupakan salah satu jembatan yang putus akibat bencana banjir di Selatan Jawa pada akhir November 2017 lalu. Jembatan yang melintang di atas Sungai Oya ini memiliki fungsi vital untuk menghubungkan dua Dusun Gelaran I dan II.

Sementara itu, untuk jalan longsor di Kabupaten Pacitan yang tengah dikerjakan, Presiden Jokowi meminta untuk segera diselesaikan. Untuk tanggul yang jebol, Presiden menargetkan selesai dalam dua pekan. “Tanggul kita beri waktu dua minggu untuk bisa diselesaikan,” ucap Jokowi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto yang ditemui di Pacitan pada hari Minggu (10/12/2017) mengungkapkan akan segera membangun jembatan darurat sebagai pengganti sementara Jembatan Bonjing.

“Penanganannya bersifat darurat agar bisa dilalui dulu sambil dipersiapkan pembangunan jembatan permanennya lebih kurang 100 meter dari hilir jembatan yang ada sekarang,” tuturnya.

Untuk mencegah kembali rusaknya infastruktur akibat longsor dan bencana banjir bandang, dirinya meminta agar seluruh pemulihan infrastruktur memperhatikan perkuatan pondasi jembatan serta perkuatan tebing di sepanjang jalan nasional.

“Longsoran ini dapat kita cegah kalau kita memahami karakteristik sungai. Tantangan utamanya bagaimana kita membangun infrastruktur berdasarkan morfologi sungai,” kata Arie.

Terkait perbaikan ke depannya, Arie telah berkoordinasi dengan Direktur Jenderal SDA Imam Santoso untuk memperoleh data geometri sungai. “Saya sudah diskusikan dengan teman-teman SDA supaya kita bisa perbaiki dengan cepat dan juga dengan keandalan yang tinggi,” tambahnya.

Menurutnya jebolnya tanggul Sungai Grindulu disebabkan curah hujan yang tinggi dan pada saat bersamaan permukaan air laut sedang naik. “Sehingga aliran air tidak bisa ke laut dan berpusar. Itu yang menyebabkan tanggul rusak dan pondasi Jembatan Grindulu terancam,” terangnya.

Di Pacitan juga terdapat tujuh jembatan gantung yang terdampak bencana banjir dan saat ini sedang dikerjakan perbaikannya, di antaranya Jembatan Gantung Tambak Rejo, Banjarsari I, Banjarsari II, Kembang, Kedungbendo, Kebon, dan Kali Atas

Tidak hanya di Pacitan, Arie mengatakan juga akan memperkuat pondasi jembatan yang melintas di atas sungai pada seluruh wilayah untuk mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem.

“Saya minta pengerjaannya dimulai dari sekarang, minimal perbaikan jembatan yang ada dulu. Kami masih punya sisa dana untuk penanganan. Sebagian akan memakai dana darurat bencana 2017. Saya minta pengerjaannya tertib administrasi,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
PKG 39, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…