Tim dari Angkasa Pura I membongkar paksa rumah warga terdampak Bandara Kulonprogo namun belum dibongkar oleh pemiliknya, Senin (27/11/2017) pagi. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Tim dari Angkasa Pura I membongkar paksa rumah warga terdampak Bandara Kulonprogo namun belum dibongkar oleh pemiliknya, Senin (27/11/2017) pagi. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 8 Desember 2017 13:55 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Pemkab Kulonprogo Gencarkan Pendekatan Persuasif

“Agar semuanya seimbang, objektif dan ilmiah, tidak menyesatkan”

Solopos.com, KULONPROGO-Pemerintah Kabupaten Kulonprogo tidak akan berhenti melakukan pendekatan persuasif kepada warga penolak proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA). Kendati saat ini, langkah yang diambil masih menemui jalan buntu.

Sekretaris Daerah Kulonprogo Astungkara menjelaskan, langkah pendekatan tersebut terus diambil kepada warga penolak, agar mereka mau merelakan lahan dan bersedia pindah dari area Izin Penetapan Lokasi (IPL) pembangunan NYIA. Pada dasarnya, Pemkab memiliki empati kepada warga, dan ingin warga tidak mendapatkan kesulitan lebih banyak di kemudian hari.

Misalnya saja, ketika warga tidak mau mengambil dana ganti rugi konsinyasi, maka mereka tidak bisa melakukan apapun, termasuk menjual lahan mereka sendiri. Karena lahan mereka sudah berada di wilayah Izin Penetapan Lokasi (IPL).

“Selain itu saat ini mereka tinggal di rumah tanpa aliran listrik, Pemkab khawatir dengan kondisi anak-anak yang tentunya membutuhkan cahaya untuk belajar. Jadi, sebetulnya kembali ke orang tua mereka, kami akan kembali berkoordinasi dengan PT Angkasa Pura I [Persero],” terang Astungkara, Kamis (7/12/2017).

Astungkara menyebutkan, sedikitnya saat ini ada 30 Kepala Keluarga, dengan total 100 jiwa, berada dalam kondisi terisolisasi. Mereka tinggal di tempat yang tidak representatif lagi, karena sekelilingnya sudah diratakan dengan tanah.

Kendati demikian, mengingat saat ini langkah pendekatan masih menemui jalan buntu, Pemkab mengambil upaya cooling down. Sekaligus meminta PT Angkasa Pura I (Persero) untuk mengerjakan pembangunan NYIA, di luar wilayah permukiman yang dihuni warga. Dan tidak hanya berfokus pada penolakan warga dan pembebasan lahan yang belum selesai.

Asisten II Sekretariat Daerah Kulonprogo Triyono mengungkapkan, pada Kamis pagi ia berusaha menemui warga penolak di salah satu kediaman mereka. Kunjungan yang bertujuan untuk melakukan pendekatan kepada warga itu, dilakukan bersama Plt Kepala Satpol PP dan sejumlah staf.

Ia dan rombongan justru harus menghadapi para aktivis yang dikenali sebagai mahasiswa, yang tinggal di rumah warga penolak. Triyono dan rombongan memilih untuk balik kanan, setelah sebelumnya terlibat dalam perdebatan dengan mahasiswa tadi.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo meminta agar seluruh pihak mau mempelajari kronologi tahapan pembebasan lahan NYIA sejak 2014, dan tidak melihatnya secara terpotong-potong. Sekaligus tetap mendengarkan suara rakyat yang sama-sama tergusur. “Agar semuanya seimbang, objektif dan ilmiah, tidak menyesatkan,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…