Pengendara kendaraan bermotor sedang melintas di perlintasan sebidang rel kereta api di simpang Ngeseng, Desa Sentolo, Senin (25/9/2017) siang. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Pengendara kendaraan bermotor sedang melintas di perlintasan sebidang rel kereta api di simpang Ngeseng, Desa Sentolo, Senin (25/9/2017) siang. (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 8 Desember 2017 09:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Pelintasan di Sentolo Ditutup

Pelintasan sebidang Ngeseng resmi ditutup.

Solopos.com, KULONPROGO–Pelintasan sebidang Ngeseng, di Sentolo, Kulonprogo akhirnya resmi ditutup, Kamis (7/12/2017) siang. Kini, seluruh kendaraan yang melintas di wilayah itu, baik roda dua ataupun lebih, dari arah Kaliagung menuju Jogja, maupun sebaliknya, harus melalui jalan layang Ngelo.

Penutupan pelintasan yang menjadi jalur kereta api tersebut dilakukan setelah melewati berkali-kali penundaan, sejak rencana penutupan awal, pada 14 Oktober 2017 lalu. Namun, penutupan ditunda karena jalan layang Ngelo belum kunjung siap dilintasi pengguna jalan.

Kasubdit Rekayasa dan Peningkayan Keselamatan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub RI, Yus Rizal menjelaskan, perlintasan Ngeseng ini adalah perlintasan sebidang kedua yang ditutup di wilayah Daops VI, paska penutupan perlintasan sebidang di bawah jalan layang Janti, Bantul. Penutupan perlintasan-perlintasan sebidang tersebut berdasarkan pertimbangan perkembangan teknologi sarana dan prasarana perkeretaapian di Indonesia. Saat ini, frekuensi kereta api yang melintas semakin banyak, selain itu, jarak perjalanan yang ditempuh oleh kereta api juga semakin pendek.

“Kecepatan kereta juga semakin tinggi, dan kondisi itu menyebabkan rawan kecelakaan. Dalam kaitannya dengan keselamatan perkeretaapian, perlintasan sebidang tidak boleh ada lagi,” kata dia, Kamis.

Ia mengungkapkan, dari data yang dimiliki oleh jajarannya, hampir setiap hari di perlintasan sebidang yang tersebar di Jawa dan Sumatera, banyak terjadi kecelakaan. Di Jawa dan Sumatera, setidaknya terdapat sekitar 6.000 perlintasan sebidang. Perlintasan-perlintasan sebidang tersebut, rencananya akan ditutup secara bertahap.

Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daops VI Jogja, Eko Budiyanto menerangkan, sedikitnya ada 504 perlintasan sebidang berada di wilayah Daops VI. Sepertiganya merupakan perlintasan tanpa penjaga. Perlintasan sebidang itu akan ditutup, dan menjadikan fungsinya sebagaimananya mestinya. Selain keselamatan pengendara jalan dan kereta api, penutupan perlintasan sebidang juga dimaksudkan untuk mencegah anak muda masuk ke rel dan melakukan swafoto di sana.

“Belum lama ini, ada remaja berusia 16 tahun melakukan swafoto di pinggir rel di wilayah Bagelen. Ia kemudian terluka, ketika kereta api melintas,” terangnya.

LOWONGAN KERJA
PAUD EL-MEDINA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…