Aktivitas jual beli kebutuhan bahan pokok di Pasar Argosari, Wonosari, Kamis (7/12/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Aktivitas jual beli kebutuhan bahan pokok di Pasar Argosari, Wonosari, Kamis (7/12/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 8 Desember 2017 08:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Pasca-Bencana Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik

Harga kebutuhan pokok di pasar alami kenaikan.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Barang kebutuhan pokok di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi karena dampak cuaca buruk yang terjadi di akhir November lalu sehingga pasokan barang di pasaran menjadi terganggu.

Beberapa kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan seperti beras, ayam potong, minyak, telur hingga cabai merah keriting. Salah seorang pedagang beras di Pasar Argosari, Tukino mengatakan kenaikan beras terjadi sejak satu minggu lalu dan kondisinya hampir terjadi di semua jenis, mulai dari kualitas medium, premium hingga super.

Menurut dia, jika dibuat rata-rata kenaikan harga beras di kisaran harga Rp500-1.000 per kilogram. Tukino mencontohkan, untuk kualitas medium awalnya hanya dijual Rp8.000, namun sejak beberapa hari lalu dipasarkan di harga Rp8.500 per kg. “Semua jenis beras naik dari yang paling murah hingga paling mahal,” katanya kepada wartawan, Kamis (7/12/2017).

Tukino mengaku tidak tahu persis yang menyebabkan harga beras naik akhir-akhir ini. Namun dari kabar yang beredar di pasaran, kenaikan tidak lepas dari cuaca buruk yang terjadi beberapa waktu lalu sehingga mengganggu pasokan di pasaran.

“Ini belum seberapa karena sekarang [kemarin] ada kabar jika beras akan terus naik di akhir tahun. Harapan saya itu jangan sampai terjadi karena jika harga beras mahal maka yang repot tidak hanya pedagang tapi juga masyarakat,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Narsih, pedagang lainnya di Pasar Argosari. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas beras, namun juga pada beberapa kebutuhan pokok lainnya seperti telur, minyak dan cabai merah keriting. Menurut dia, kenaikan tertinggi dialami cabai merah keriting dari awalnya hanya Rp20.000 per kilo menjadi Rp35.000 per kilo.

“Kalau barang lain tidak banyak, misal untuk minyak satu kardusnya hanya naik Rp3.000. Sedang untuk telur hanya naik Rp2.000 dari Rp20.000 menjadi Rp24.000 per kilo,” kata Narsih.

Menurut dia, naiknya harga cabai merah menjadi hal yang aneh. Pasalnya harga di pasaran sekarang ini lebih tinggi ketimbang cabai rawit. Padahal, kata Narsih, selama ini harga cabai merah tidak pernah melampaui harga cabai rawit. “Cabai rawit hanya di kisaran Rp20.000 per kilo. Jadi kalau dibandingkan dengan cabai merah sangat jauh dan kondisi ini sangat jarang terjadi,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…