Acara peluncuran dan diskusi buku 50 tahun Politik ASEAN, Kamis (7/12/2017). (Birgita Olimphia Nelsye/JIBI/Harian Jogja). Acara peluncuran dan diskusi buku 50 tahun Politik ASEAN, Kamis (7/12/2017). (Birgita Olimphia Nelsye/JIBI/Harian Jogja).
Jumat, 8 Desember 2017 06:40 WIB M110/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Pakar Kritisi 50 Tahun ASEAN Berdiri

50 tahun politik ASEAN, isu fungsional tidak tersentuh.

Solopos.com, SLEMAN–Institute of International Studies (IIS) Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan peluncuran dan diskusi buku berjudul 50 Years of Enmity and Amity: The Politics of ASEAN Cooperation, Kamis (7/12/2017). acara ini digelar di DigiLib Cafe, Gedung Perpustakaan Mandiri Lantai 2 Fisipol UGM.

“Buku ini dikerjakan dalam waktu singkat untuk momentum 50 tahun politik ASEAN. Dengan 10 kontributor umum yang terlibat dalam penulisannya. Setiap chapter dalam buku ini terbuka untuk setiap orang di luar jurusan HI maupun di luar kampus UGM”, jelas Poppy S Winanti, editor buku ini, Kamis.

Dengan pendekatan studi kasus, buku ini mencoba mengumpulkan kajian-kajian kerja sama yang selama ini dilakukan negara-negara ASEAN, sebuah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau lebih populer dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations. Buku ini mencoba untuk melihat adanya sisi lain yang lebih penting dari pada memandang kerja sama antarnegara Asia Tenggara sebatas hubungan politik.

“ASEAN didirikan tahun 1967 sebagai blok anti komunis, sehingga wajar menjadi sangat politis. Namun karena dimaknai sebagai hubungan politik, maka kerja sama yang dilakukan selama 50 tahun ini tidak berkembang”, jelas Muhammad Rum, Dosen Ilmu Hubungan Internasional UGM.

Pihaknya menjelaskan, sudah saatnya ASEAN berfokus kepada kerja sama yang mengedepankan fungsionalismenya, yaitu bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di negara-negara anggota dengan hubungan kerja sama politik itu.

Buku ini mencoba mengkaji dari sisi fungsi hubungan kerja sama, dengan membagi bahasan ke dalam dua isu spesifik di negara-negara ASEAN. Isu ini yaitu isu keamanan dan non keamanan, serta isu tradisional dan non tradisional.

“Isu keamanan misalnya isu Hak Asasi Manusia. Isu non keamanan misalnya isu asap akibat kebakaran hutan. Kemudian isu keamanan tradisional seperti kerja sama militer dan energi. Isu keamanan nontradisional misalnya penyakit menular dan bencana”, jelas Rum.

Dosen ilmu hubungan internasional Universitas Bina Nusantara, Sukmawani Bela Pertiwi memberikan masukan terhadap buku ini. Pihaknya sebagai pembahas dalam acara ini menyarankan untuk mempertimbangkan apakah dengan 10 studi kasus dari kontributor cukup untuk menjadi alat prediksi keefektivitasan kerja sama fungsional ini.

Oleh karena itu, Poppy berharap buku ini bisa menjadi serial pertama yang diterbitkan IIS mengenai kajian ASEAN agar selanjutnya dapat dilanjutkan dan terus diperbaiki.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…