Irfan Hakim (Instagram @irfanhakim75) Irfan Hakim (Instagram @irfanhakim75)
Jumat, 8 Desember 2017 14:30 WIB JIBI/Solopos.com/Okezone Issue Share :

Irfan Hakim Jelaskan Kronologi Toko Kue Kekiniannya Dihantam Mobil Karyawan

Irfan Hakim menjelaskan kabar yang sudah menghebohkan media sosial itu.

Solopos.com, JAKARTA – Irfan Hakim menilai musibah di toko kuenya di Makassar murni kecelakaan kerja oleh pegawainya sendiri. Ia pun menanggapinya dengan cukup santai, dan beruntung, tidak ada korban berupa orang dalam kejadian tersebut.

Peristiwa itu langsung diketahui Irfan baru-baru ini, tak lama setelah kejadian. Menurut Irfan, mobil itu tengah dipindah seperti biasa pada malam hari, tapi tak terduga mobil tersebut bablas dan menghantam kaca toko. Alhasil, mobil berplat DD 1316 VD itu memecahkan kaca serta membuat seisi toko berantakan. Menurut foto yang tersebar di Instagram, mobil itu menyeruduk sangat dalam sampai seluruh badannya pun masuk toko.

“Itu salah satu pegawai saya. Jadi mobil itu bukan mobil pembeli, bukan mobil umum, itu mobil perusahaan. Jadi salah satu pegawai saya mau masukin mobil ke depan toko, memang biasanya seperti itu. Nah karena yang nyetir itu bisa ngantuk, bisa enggak teliti, ataupun masih belajar, bablas ke pintu kacanya, prak!” jelas Irfan pada Go Spot RCTI, tayang Jumat (8/12/2017).

Musibah itu sempat mengundang simpati dari warganet. Beruntung, peristiwa itu terjadi malam hari, saat toko tidak sedang ramai. Tidak ada korban dalam kejadian itu selain kaca toko. Toko Irfan pun tetap buka keesokan harinya meski tanpa pintu kaca depan.

Ini pun jadi pelajaran bagi pria 42 tahun tersebut. Ia mengakui peristiwa ini sebagai risiko pekerjaan dan pelajaran agar dirinya dan para staf berhati-hati jika ingin menyerahkan pekerjaan pada orang lain, apalagi jika orang itu belum banyak pengalaman seperti menyetir mobil.

“Yang beruntung adalah di sana tidak sedang penuh pembeli, pegawai juga tidak banyak kalau shift malam, ya udah tidak ada kerusakan yang fatal, untung juga nabraknya ke kaca,” jelas Irfan.

“Baru bisa nyetir, terus dimintain untuk pindahin mobil. Ya itu lah risikonya, memang kalau memberikan tugas itu harus kepada yang layak dan berkompeten,” tutupnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…