Berbagai kegiatan dalam memperingati delapan tahun Unit Pelaksana Teknis (UPT) Logam, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja. (Ist/UPT Logam) Berbagai kegiatan dalam memperingati delapan tahun Unit Pelaksana Teknis (UPT) Logam, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja. (Ist/UPT Logam)
Jumat, 8 Desember 2017 06:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Industri Logam Jogja Terus Berbenah

“Sekarang bisa sampai 1.500 buah dalam sehari”

Solopos.com, JOGJA-Unit Pelaksana Tekn (UPT) Logam, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja terus berbenah dalam memperbaiki kualitas produksi dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Berbagai fasilitas penunjang terus dilengkapi, salah satunya pembaruan teknologi pengecoran logam yang sebelumnya menggunakan teknik gravity tuang cor atau cetak cor, sejak pertengahan tahun sudah menggunakan mesin injeksi. Hasil produksi pun berlipat.

“Sebelumnya hanya menghasilkan 200 buah produksi dalam sehari. Sekarang bisa sampai 1.500 buah dalam sehari,” kata Kepala UPT Logam M Agus Maryanto, Kamis (7/12/2017).

Pengadaan mesin injeksi tersebut berasal dari APBD Kota Jogja sebesar Rp6,5 miliar. Saat ini ada 61 industri kecil menengah (IKM) yang memproduksi berbagai produk aluminium. Tidak hanya produk otomotif, tetapi sudah merambah pada alat kesehatan dan sejumlah peralatan rumah tangga. Bahkan, rencananya dalam satu sampai dua tahun ke depan akan mulai memasok pada perusahaan-perusahaan besar.

Termasuk ekspor sampai luar negeri. Agus pun menjamin dalam lima tahun ke depan UPT Logam bisa menyerap lebih dari 1.500 orang dari yang ada sekarang sekitar 500-an orang. “Karena sudah banyak yang melirik khususnya di bidang industri otomotif,” ucap dia.

Agus mengatakan, sejarah industri logam di Jogja sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan sejak masa Panembahan Senopati memerintah yang memerintahkan abdi dalem membuat perhiasan dari emas dan perak. Beberapa nama tempat menunjukan sentra logam yang berdiri sejak zaman Mataram Islam, mulai dari Sayangan yang merupakan tempat tinggal perajin barang dari tembaga dan perunggu, Pandean tempat tinggal perajin besi.

Sementara, Nitikan sebagai sentra industri aluminium baru berkembang sekitar 1950an, “Saat itu di Nitikan yang diproduksi baru peralatan rumah tangga dan kerajinan. Teknologi yang digunakan saat itu juga masih sederhana seperti tungku peleburan dan mesin bubut yang digerakkan dengan kaki,” papar Agus.

Kini industri logam terus mengalami perkembangan baik dari sisi teknologi pembuatan mau pun kualitas sumber daya manusianya. Bahkan telah dikukuhkan menjadi salah satu industri unggulan DIY. Terlebih setelah UPT logam dibentuk sejak 2006 lalu yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada 2009.

Agus tidak memungkiri selama perjalanan UPT Logam yang sudah berusia delapan tahun menemukan berbagai kendala. “Kendala bukan untuk dihindari namun untuk meningkatkan kualitas dan kedewasaan. Ancaman pasti ada, namun justeru sebagai sarana agar lebih kreatif mencari solusi,” kata dia.

Ia meyakini industri logam Kota Jogja mampu bersaing pada level nasional dan internasional. Bersamaan dengan HUT ke–8, UPT Logam akan menyelenggarakan berbagai acara, di antaranya seminar nasional industri logam yang digelar di Balai Kota Jogja, hari ini. Kemudian pameran industri logam dan pesta alat masak di komlek UPT Logam, Sorosutan Umbulharjo, dan senam sehat.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…