Jumat, 8 Desember 2017 10:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Arsitek Harus Pandai Rancang Bangunan Hijau

Calon arsitek disadarkan soal bangunan hijau.

Solopos.com, SLEMAN–Calon arsitek didorong untuk memiliki kesadaran tinggi mengedepankan konsep bangunan hijau atau membangun dengan ramah lingkungan dalam setiap merencanakan atau membuat desain. Selain dapat menjaga lingkungan sekitar, konsep itu juga dinilai menghemat biaya.

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan perhatian kepada mahasiswanya dengan menghadirkan ahli perencanaan untuk memberikan kuliah di hadapan ratusan mahasiswa terutama jurusan Aristektur, Kamis (7/12/2017).

Ketua Prodi Magister Arsitektur Pascasarjana UII Suparwoko mengakui masih banyaknya konsep perencanaan bangunan yang kurang ramah lingkungan. Contoh yang sering ditemukan adalah penggunaan AC di setiap ruangan yang selalu berlebihan. Padahal dalam perencanaan seharusnya bisa di desain dengan konsep pengurangan AC atau bahkan tanpa AC sehingga udara sejuk didapatkan langsung secara alami. “Kalau bisa secara alami, mengapa harus pakai AC, atau memakai AC tetapi ada pengurangan dengan desain tertentu,” terangnya, Kamis (6/12/2017).

Perkuliahan itu sengaja menghadirkan ahli, kata dia, dengan harapan mahasiswa calon arsitek memiliki wawasan yang memadai serta bersemangat ke depan dalam membuat perencanaan yang ramah lingkungan. Dengan ramah lingkungan pula, maka biaya yang dikeluarkan lebih hemat. Ia mencontohkan, pembangunan rumah bentuk joglo agar optimal pencahayaannya harus ada simulasi dengan membuat model sehingga memudahkan baik secara estetika dan ekonomi. “Biaya murah tetapi terukur, karena bisa disimulasi, pencahayaan, penghawaan, alami. Kalau butuh pencahayaan maksimal butuh berapa, ini sangat bisa dinegoisasikan dengan simulasi,” ungkap dia.

Pakar Bidang Arsitektur Ery Djunaedy dalam kesempatan itu menyatakan, Indonesia sudah memiliki aturan tersendiri yang membahas bangunan ramah lingkungan. Namun kelemahannya, tidak mencakup keseluruhan aspek yang menjadi pertimbangan. Karena aturan itu hanya mewajibkan 30% dari konsumsi listrik atau energi, sedangkan sisanya sekitar 70% justru belum diatur. “Jadi pengaruh arsitektur dalam perubahan iklim ini harus menjadi perhatian, dengan mempertimbangkan kebijakan maupun konsumsi energi,” tegas Dosen Universitas Telkom ini.

Tetapi di sisi lain, kata dia, sifat manusia yang justru membuat tidak efisiennya sebuah bangunan. Bukan persoalan energi, namun seringkali yang membuat tidak efisien adalah manusia sendiri. Apalagi, bangunan tidak bisa disamakan dengan membuat mobil atau pesawat yang bisa diproduksi secara massal. Namun bangunan harus selalu berbeda dengan memenuhi permintaan klien. Oleh karena itu, kadang arsitek harus mempertimbangkan desain bangunan sesuai kebutuhan klien. “Sebuah rumah sakit, akan memilih desain bangunan ruangan dengan efektif tidak butuh waktu lama bagi perawat untuk sampai ke pasien daripada memiliki desain yang sebenarnya itu nyaman tetapi perawat harus berjalan beberapa langkah tambahan untuk sampai ke pasien. Seorang pimpinan pasti akan berfikir sampai kesana,” tegas dia.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…