Alat berat diturunkan dalam proses penanganan kebencanaan wilayah Prambanan, Selasa (5/12/2017). (Foto istimewa/trcbpbdsleman) Alat berat diturunkan dalam proses penanganan kebencanaan wilayah Prambanan, Selasa (5/12/2017). (Foto istimewa/trcbpbdsleman)
Kamis, 7 Desember 2017 13:40 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Warga Kawasan Longsor Prambanan Bakal Tinggal di Huntara

Enam Huntara siap dibangun bagi warga yang direlokasi.

Solopos.com, SLEMAN–Pemkab mengubah status darurat tanggap bencana banjir, angin kencang dan tanah longsor menjadi pemulihan bencana. Upaya tersebut dilakukan agar penanganan bencana bisa lebih cepat.

Perubahan status tersebut merupakan hasil evaluasi SK Bupati Nomor 128/Kep.KDH/A/2017 pada 29 November 2017 terkait Status Tanggap Darurat Bencana Banjir, Angin Kencang dan Tanah Longsor yang berakhir pada 5 Desember kemarin. “Dengan berakhirnya status tanggap darurat, kami bisa berkonsentrasi untuk melakukan pemulihan lokasi bencana,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan, Rabu (6/12/2017).

Masa pemulihan kebencanaan tersebut, lanjut dia, diusulkan berlaku hingga akhir Desember mendatang. Selama masa pemulihan, tim reaksi cepat (TRC) BPBD Sleman beserta seluruh relawan kebencanaan di wilayah Prambanan melakukan proses evakuasi yang belum selesai. “Yang kemarin belum selesai, kami selesaikan, termasuk penanganan bagi para pengungsi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, meski mengungsi mandiri namun kebutuhan 38 KK tetap dipasok oleh BPBD Sleman. Sejak 28 November hingga 4 Desember kemarin, BPBD memasok 35 paket logistik pangan dan 10 paket selimut bagi para pengungsi yang tersebar di lebih 12 titik pengungsian. Dari 120 jiwa yang berstatus pengungsi, sebanyak tiga jiwa masih balita dan sembilan jiwa termasuk lansia

“Untuk pasokan logistik disediakan oleh Dinsos dan kesehatan pengungsi akan dipantau oleh Dinkes. Sampai saat ini kondisi kesehatan pengungsi baik-baik saja,” katanya.

Bangun Huntara
Makwan mengatakan, saat ini masih tercatat 24 KK yang masuk dalam daftar harus direlokasi karena kondisi tanah labil di sekitar pemukimannya. Ke 24 KK tersebut terdiri dari warga Sumberharjo 21 KK, Sambirejo 1 KK, Gayamharjo 1 KK, Wukirharjo 2 KK. “Ada juga yang perlu direkonstruksi di tiga titik lokasi. Dua di Wukirharjo dan satu lokasi di Bokoharjo,” jelasnya.

Dari 24 KK tersebut, sebanyak enam KK warga Sumberharjo meminta untuk disediakan hunian sementara (Huntara). Pihaknya segera membangun Huntara tersebut di lokasi yang diinginkan oleh warga meski tanah untuk lokasi Huntara sendiri sudah disediakan. “Enam KK yang saat ini mengungsi minta Huntara, segera kami bangun. Ini jumlah sementara, bisa jadi jumlahnya bertambah,” jelasnya.

Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS) Yoga Nugroho menambahkan, lokasi pengungsian 120 jiwa tersebar di rumah-rumah tetangga atau kerabat dekat sehingga tidak mengalami perubahan cuaca. “Tidak ada laporan pengungsi yang sakit. Sebab mereka mengungsi mandiri, di rumah kerabat atau tetangga dekat rumah,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, warga terdampak bencana bersama tetangga dan relawan kebencanaan masih membersihkan puing-puing bangunan untuk dipindahkan ke lokasi baru.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…