Kondisi terkini Waduk Gondang di Kerjo, Karanganyar, Rabu (6/12/2017). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)
Kamis, 7 Desember 2017 08:30 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Waduk Gondang di Karanganyar Sisakan Efek Samping, Termasuk Jalan Rusak

Pembangunan Waduk Gondang membuat efek samping bagi petani setempat.

Solopos.com, KARANGANYAR — Meski bertujuan meningkatkan pertanian, pembangunan Waduk Gondang di Kecamatan Kerjo, Karanganyar, ternyata juga menyisakan masalah bagi warga setempat. Pembangunan waduk disebut-sebut juga menyebabkan irigasi sawah terganggu.

Waduk dengan ketinggian bendungan 71 meter itu berada di Gempolan (Kecamatan Kerjo), Ganten (Kecamatan Kerjo), dan Jatirejo (Kecamatan Ngargoyoso). Sebagian warga di sekitar waduk sebatas menjadi penonton. Warga tak leluasa ingin mengetahui secara detail pembangunan waduk di Gondang.

Hal itu seperti rusaknya jalan utama di Gempolan. Seringnya dilalui kendaraan berat, jalan utama di Gempolan rusak parah. Di samping itu, 30-an hektare areal pertanian di Gempolan mendadak berubah menjadi sawah tadah hujan. Padahal, sebelum pembangunan waduk, lahan itu merupakan sawah dengan irigasi teknis.

“Total lahan pertanian yang kekurangan air seluas 60-an hektare. Separuh dari luas itu, milik warga kami. Saat ini menjadi sawah tadah hujan, sehingga petani di sini hanya dapat menanam saat hujan tiba,” kata Kepala Urusan (Kaur) Umum Pemdes Gempolan, Sugiyarto, saat ditemui Solopos.com, di kantornya, Rabu (6/12/2017).

Menurut Sugiyarto, penyebab kondisi ini adalah aliran air dari Ngargoyoso tak mengalir ke Kerjo. Aliran air itu hanya tertampung di sekitar waduk. “Di musim kemarau, warga membiarkan sawahnya tak ditanami tanaman padi [bera].”

Hal senada dijelaskan Kepala Dusun (Kadus) Sidomulya Pemdes Gempolan, Suyono. Pemdes Gempolan sudah memfasilitasi warganya untuk bertemu dengan pelaksana proyek, PT Waskita Karya, guna mencari solusi persoalan tersebut.

“Saat ini, memang para petani di Gempolan memang sudah memperoleh aliran air lagi [yang bersumber dari Ngargoyoso]. Tapi, alirannya kecil karena hanya melalui pipa. Hal ini mengakibatkan penanaman padi tetap tak maksimal [hanya berlangsung di musim hujan. Areal pertanian di Gempolan sebenarnya dapat ditanami dengan pola padi-padi-padi setiap satu tahunnya],” katanya.

Terkait jalan yang rusak, Suyono mengatakan sudah ada jaminan dari pelaksana proyek. Jalan akan diperbaiki, namun perbaikan total itu baru dilakukan setelah proyek pembangunan waduk rampung

Saat Solopos.com ingin menemui pejabat yang berwenang di PT Waskita Karya, petugas keamanan (satpam) di lokasi pembangunan itu melarang awak Solopos masuk ke area pembangunan.

“Mohon maaf, wartawan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) memang tak diperbolehkan masuk ke dalam dan wawancara terkait hasil perkembangan pembangunan waduk. Itu perintah yang saya peroleh [dari pimpinan PT Waskita Karya]. Sekali mohon maaf, saya hanya menjalankan tugas di sini,” kata seorang satpam yang berjaga di pintu masuk utama area pembangunan waduk, Eko Susilo.

lowongan pekerjaan
PT.SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…