Bus baru Trans Jogja berwarna biru siap mengaspal, Rabu (25/5/2016). (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja) Bus baru Trans Jogja berwarna biru siap mengaspal, Rabu (25/5/2016). (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 Desember 2017 04:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Penumpang Makin Sepi, Bagaimana Pendapatan Trans Jogja

Terus menurunnya jumlah penumpang Trans Jogja dipastikan berimbas pada pendapatan

Solopos.com, JOGJA- Terus menurunnya jumlah penumpang Trans Jogja dipastikan berimbas pada pendapatan.

Baca juga : Warga Semakin Enggan Naik Bus Trans Jogja

Kepala Unit Pelaksana Teknis Trans Jogja, Dinas Perhubungan DIY, Sumariyoto memprediksi pendapatan dari Trans Jogja tahun ini menurun sekitar Rp3 miliar. Sampai akhir November tahun ini pendapatan baru mencapai sekitar Rp17 miliar. Sampai akhir tahun nanti, kata dia, tambahan pendapatan Rp1-1,5 miliar. Sementara tahun lalu bisa mencapai Rp21 miliaran.

Namun, ia menegaskan, Trans Jogja, tidak terlalu fokus pada pendapatan, karena transportasi umum berbasis bus rapid transit tersebut lebih fokus pada pelayanan. Sebab, muatan penuh atau tidak, pihaknya tetap harus mensubsidi Trans Jogja.

“Satu kali perjalanan untuk satu Trans Jogja kalau penuh 40 orang. Jika tiket rata-rata Rp3.000 saja maka tidak nutup, karena sekali perjalanan per unit Trans Jogja membutuhkan biaya Rp250.000,” jelasnya, di Hotel Harper Mangkubumi, Rabu (6/12/2017).

Sebelumnya, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Arif Wismadi, kepada media ini menyatakan untuk menyelamatkan Trans Jogja maka pengadaan jalur khusus menjadi keharusan. “Tanpa jalur khusus sudah pasti angkutan umum akan ikut dalam kemacetan,” kata Arif.

Menurut dia, dengan tidak ada jalur khusus, maka Trans Jogja akan tenggelam dalam kemacetan, imbasnya akan ditinggalkan penumpang. Di sisi lain subsidi juga akan terus bertambah.

LOWONGAN PEKERJAAN
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…