Aparat keamanan mengamankan 11 orang yang dianggap menghalangi kegiatan pengosongan lahan terdampak Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, Selasa (5/12/2017). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Aparat keamanan mengamankan 11 orang yang dianggap menghalangi kegiatan pengosongan lahan terdampak Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, Selasa (5/12/2017). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 Desember 2017 17:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pemda DIY Angkat Bicara Soal Ricuh Lahan Bandara

Pemda DIY anggap penolakan bandara tidak relevan.

Solopos.com, JOGJA–Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Gatot Saptadi angkat bicara terkait kericuhan proses penggusuran lahan badara di Kecamatan Temon, Kulonprogo beberapa waktu lalu.

Gatot meminta pihak-pihak yang masih menolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu untuk menghargai warga yang rela pindah dari tanah kelahirannya demi proyek tersebut.

Ia menyatakan penolakan terhadap megaproyek tersebut sudah tidak relevan karena semua proses yang dilalui telah sesuai dengan tatanan yang berlaku seperti kajian analisis dampak lingkungan dan tsunami. Hal-hal seperti itu menurutnya tak perlu dipermasalahkan lagi.

“Tuntutan jadi tidak relevan karena bandara segede itu sudah melalui berbagai kajian. Mbok tolong dihargai warga yang sudah berkorban untuk meninggalkan tanahnya. Jangan menolak hanya didasari beberapa kelompok yang mengatakan tidak setuju dengan NYIA,” kata Gatot di kantornya, Kamis (7/12/2017).

Gatot juga tidak mengakui bahwa land clearing di lokasi pembanguan bandara disebut sebagai penggusuran karena sudah melalui proses panjang termasuk sosialisasi.

Menurutnya, PT. Angkasa Pura sudah sangat persuasif.
Mantan Plt Kepala Dinas Perhubungan itu menyebut penyelesaian masalah tersebut harus melalui mekanisme dialog, “Intinya jangan pokok’e lah. Kalau gitu enggak akan ada solusinya. Prosesnya sudah panjang, masak mikir nolak bandara. Sebaiknya mereka membantu supaya proses ini bisa berjalan lancar,” ucapnya.

Sebelumnya pada Selasa (5/12/2017) ratusan aparat kepolisian pecah bentrok dengan warga dan mahasiswa yang menolak pembangunan bandara. Belasan mahasiswa sempat ditangkap sebelum ditendang dan diseret polisi, sejumlah warga terluka.

Heronimus Heron, Koordinator Pantauan Lapangan Aliansi Tolak Bandara Kulonprogo sebelumnya mengungkapkan pihaknya dengan tegas menolak pembangunan bandara NYIA di lokasi tersebut karena lokasi itu merupakan lahan produktif.

“Ada warga yang tak mau lahannya dijual itu harus dihormati. Itu kekuatan tetap tak boleh digusur. Ketika tidak ada lahan, mau kerja dimana. Lebih penting dari itu, ada ikatan sejarah dan tanah,” katanya.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…