Seorang pesepeda sedang melintas di jalur pemasangan pipa baru milik PDAM Tirta Handayani di Jalan Taman Bhakti, Wonosari, Kamis (29/9/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Seorang pesepeda sedang melintas di jalur pemasangan pipa baru milik PDAM Tirta Handayani di Jalan Taman Bhakti, Wonosari, Kamis (29/9/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 Desember 2017 21:55 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Layanan Air PDAM Gunungkidul Masih Belum Lancar

Salah satu yang belum dapat berfungsi sama sekali adalah instalasi pengolah air di Desa Bunder, Kecamatan Patuk

Solopos.com, GUNUNGKIDUL—Layanan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani hingga saat ini masih belum lancar. Pasalnya, pascabanjir dan tanah longsor sejumlah pompa dan pipa masih mengalami kerusakan.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Isnawan Fibriyanto mengatakan, sejak sepekan pascabanjir pihaknya sudah berupaya untuk memperbaiki sejumlah kerusakan jaringan air. Namun, diakuinya masih ada kendala yang membuat sejumlah titik kerusakan belum dapat dibenani.

“Peralatan pengganti yang rusak masih belum datang dan sejumlah titik sambungan listrik dari PLN juga belum nyambung,” ujarnya, Kamis (7/12/2017).

Salah satu yang belum dapat berfungsi sama sekali adalah instalasi pengolah air di Desa Bunder, Kecamatan Patuk. Karena tersapu luapan Sungai Oya saat banjir kemarin mengalami kerusakan cukup parah. Sehingga, untuk distribusi air, terutama di Kecamatan Playen masih belum dapat dilakukan.

Tidak hanya itu, sejumlah sumber air milik PDAM seperti di Baron dan juga Bribin I dan II juga belum optimal. “Di Baron yang seharusnya ada dua pompa, yang sekarang bisa berfungsi baru satu. Sementara, di Bribin yang seharusnya ada tiga pompa, sekarang hanya satu yang dapat beroperasi,” kata dia.

Akibatnya ada sekitar 3.000 pelanggan PDAM yang belum mendapatkan akses air bersih selama beberapa hari terakhir pasca banjir. “Sebagian sudah ada yang dapat [saluran air bersih] tapi belum optimal karena masih bergiliran,” jelas Isnawan.

Satu hari pasca banjir akibat Badai Cempaka pada Selasa (28/12/2017) lalu ada 30.254 pelanggan PDAM yang tak bisa mengakses layanan air bersih karena banyak jaringan yang mengalami kerusakan. Pihaknya pun mencatat kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir tersebut, PDAM merugi hingga Rp6,5 miliar.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah Serayu Opak Tri Bayu Aji mengatakan, akibat banjir elevasi air di Bribin I dan II meningkat drastis. Dari elevasi normal yakni di angka 10 hingga 15, saat banjir meningkat tajam hingga berada di titik 64. “Itu mengakibatkan rumah trafo dan seluruh pompa, tiga-tiganya tenggelam,” ujarnya.

Akibat dari itu, maka Bribin I dan II yang biasanya mengalirkan kebutuhan air baku untuk warga sekitar saat ini tidak dapat dioperasikan. Sebab seluruh peralatan yang ada di Bribin masih rusak. Dan menurutnya butuh waktu empat sampai enam bulan ke depan untuk perbaikan.

lowongan pekerjaan
PT.MERAPI ARSITA GRAHA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…