Bus baru Trans Jogja berwarna biru siap mengaspal, Rabu (25/5/2016). (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja) Bus baru Trans Jogja berwarna biru siap mengaspal, Rabu (25/5/2016). (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 Desember 2017 02:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Jalan Padat Jadi Penyebab Trans Jogja Sering Terlambat, Mendesak Butuh Jalur Khusus?

Dinas Perhubungan DIY tengah mengkaji jalur khusus Trans Jogja untuk memenuhi tuntutan masyarakat

Solopos.com, JOGJA- Dinas Perhubungan DIY tengah mengkaji jalur khusus Trans Jogja untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi yang cepat, aman, nyaman, dan tepat waktu.

Baca juga : Tak Sabar Menunggu Trans Jogja hingga 30 Menit, Calon Penumpang Pilih Pesan Taksi

Kepala Unit Pelaksana Teknis Trans Jogja, Dinas Perhubungan DIY, Sumariyoto mengakui angkutan massal Trans Jogja semakin ditinggalkan oleh masyarakat karena belum bisa memberikan jaminan ketepatan waktu. Kondisi tersebut ditangkap oleh penyedia jasa transportasi berbasis daring yang makin diminati masyarakat.

Dalam catatan Dinas Perhubungan DIY, jumlah penumpang Trans Jogja turun dari tahun ke tahun. Penurunan terparah terjadi sejak dua tahun terakhir. jumlah penumpang pada 2016 hanya mencapai 6.409.205 orang. Jumlah tersebuut menurun di banding 2015 yang mencapai 6.639.212 orang dan 6.645.703 orang (2014). Tahun ini sampai September lalu, jumlah penumpang baru mencapai 3.981.239 orang.

Menurut Sumariyoto, masyarakat sebenarnya sudah menyadari dengan membawa kendaraan pribadi akan menambah jalanan macet dan akses Trans Jogja juga sebenarnya mudah.

“Masalahnya untuk sampai ke tempat tujuan itu yang dikeluhkan masyarakat, karena sampai sekarang Trans Jogja belum bisa menjamin ketepatan waktu,” kata dia, di Hotel Harper Mangkubumi, Rabu (6/12/2017).

Jaminan ketepatan waktu yang belum terpenuhi Trans Jogja, kata Sumariyoto, karena kondisi ruas jalan yang padat. Belum lagi adanya rekayasa lalu lintas yang mengharuskan Trans Jogja memutar jalur karena kepadatan lalu lintas. Maka, tidak ada jalan lain, kata dia, jalur khusus Trans Jogja menjadi kebutuhan.

Namun jalur khusus yang bisa diterapkan tidak bisa di semua ruas jalan karena keterbatasan lahan. Berbeda dengan di Jakarta yang lahanya masih luas sehingga Trans Jakarta memiliki jalur khusus di semua koridor, “Paling tidak di beberapa persimpangan yang kepadatannya cukup parah bisa diupayakan jalur khusus,” ujar Sumaryoto.

Pihaknya baru akan memulai kajian jalur khusus pada awal tahu depan, namun gambaran awal persimpangan yang bisa didahulukan adalah Simpang Maguwoharjo, Sleman karena jalur tersebut lebih merupakan jalur utama menuju bandara.

“Masih kami kaji, jadi bisa dibikin bundaran atau dilebarkan lagi,” kata dia. Kemudian, beberapa simpang jalan yang padat seperti Simpang Janti sampai batas kota juga akan menjadi kajian.

Sumaryoto belum bisa menjelaskan detail soal teknis jalur khusus di persimpangan. Menurut dia, jalur khusus itu nantinya akan dipadukan dengan pengaturan lampu traffic light melalui Area Traffic Control system (ATCS) yang dikendalikan melalui kantor Dinas Perhubungan DIY. Jadi, kata dia, ketika di persimpangan melintas Trnas Jogja, maka akan didahulukan jalan dengan lampu menyala hijau.

lowongan pekerjaan
Impressions Body Care Center, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…