Seorang petani ikan tengah memperbaiki tanggul kolamnya di Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Selasa (5/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Seorang petani ikan tengah memperbaiki tanggul kolamnya di Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Selasa (5/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 Desember 2017 07:55 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Bukan Banjir, Ini Penyebab Penurunan Produksi Ikan di Kulonprogo

Produksi ikan di Kulonprogo budidaya dilaporkan telah mencapai 12.398 ton per November kemarin

Solopos.com, KULONPROGO-Produksi ikan budidaya dilaporkan telah mencapai 12.398 ton per November kemarin. Bencana alam yang dipicu siklon tropis cempaka diklaim tidak akan terlalu mengganggu ketercapaian target tahun ini.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulonprogo, Sudarna mengatakan produksi ikan budidaya tercatat setidaknya 12.398 ton pada akhir bulan kemarin. “Kalau dibandingkan dengan target tahun ini sebanyak 12.487 ton, angka itu sebenarnya cuma kurang sedikit,” ujar Sudarna, Rabu (6/12/2017).

Produksi ikan budidaya di Kulonprogo memang cenderung berkurang dalam beberapa tahun terakhir, baik dari kolam maupun tambak. Penurunan paling signifikan dapat dilihat dengan membandingkan capaian tahun 2015 dan 2016.

Produksi ikan budidaya sepanjang 2016 kemarin diketahui hanya 13.458 ton, lebih sedikit dibandung tahun sebelumnya sebanyak 14.338 ton. Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) disebut menjadi penyebab utama karena mau tidak mau memangkas jumlah kolam dan tambak budidaya, khususnya di Temon.

Sudarna memaparkan, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi ikan budidaya. Bentuknya antara lain pemberian bantuan bibit dan sarana pendukung produksi perikanan kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).

Menurut Sudarna, program bantuan yang diikuti pendampingan intensif tersebut sebenarnya sudah membuahkan hasil positif tahun ini. Hal itu diantaranya terlihat dari capaian produksi pada setiap triwulan yang rata-rata tembus 3.000 ton.

Sudarna sebelumnya cukup yakin bisa mendapatkan angka yang jauh lebih tinggi dibanding target awal. Namun, sejumlah bencana yang terjadi pekan lalu ternyata juga berdampak buruk terhadap usaha perikanan budidaya.

“Kerugiannya sampai Rp710 juta lebih itu. Tidak hanya ikan yang hilang tapi kolamnya kena longsor juga. Jadi ya memang sedikit mengganggu,” kata Sudarna.

Di sisi lain, Sudarna berharap produksi ikan tangkap bisa terangkat. Hingga akhir November kemarin, produksi ikan tangkap tercatat baru sekitar 1.666 ton, masih jauh dari target tahun ini sebanyak 2.112 ton.

“Ikan tangkap harusnya malah diuntungkan karena ada penambahan stok di perairan umum, yaitu dari yang tidak sengaja pindah dari kolam budidaya karena bencana kemarin,” ucap dia.

Meski begitu, Sudarna juga tidak mau berekspektasi terlalu tinggi, khususnya kepada para nelayan. Hal itu mengingat nelayan lokal lebih sering melaut dengan memakai perahu motor tempel. Perahu kecil seperti itu sangat tergantung oleh cuaca seperti kondisi angin dan gelombang, sedangkan cuaca buruk masih berpotensi terjadi pada akhir tahun ini.

Sebelumnya, Ketua Kelompok Nelayan Ngudi Mulyo Pantai Glagah, Supriyanto membenarkan jika nelayan lokal kebanyakan masih melaut dengan perahu motor tempel. “Kemampuan kapal tempel yang hanya mampu melaut kurang dari lima mil ini yang menyebabkan hasil ikan tangkap tidak maksimal,” ungkap dia.

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…