Para peserta program Chinese Overseas Exchange Asosiation (COEA) dari Jogja berfoto bersama di tengah hamparan salju di Harbin, Tiongkok beberapa waktu lalu. (Ist) Para peserta program Chinese Overseas Exchange Asosiation (COEA) dari Jogja berfoto bersama di tengah hamparan salju di Harbin, Tiongkok beberapa waktu lalu. (Ist)
Kamis, 7 Desember 2017 05:40 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Awalnya Cuma Wisata, Lalu Berlanjut Studi di Tiongkok

Pegiat bahasa Mandarin tarik minat studi di Tiongkok.

Solopos.com, JOGJA–Para pegiat bahasa Mandarin membuka akses bagi remaja untuk berwisata di Tiongkok. Kegiatan ini dipandang efektif untuk menarik minat  remaja untuk melanjutkan studi di negeri Tirai Bambu itu.

Desember ini, Paguyuban Warga Tionghoa Jogja, Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (BKPBT) DIY, dan Xinlong Mandarin Education Center, saling bekerja sama mengkoordinir wisata remaja Jogja ke Tiongkok. Kegiatan study tour ini dibuka oleh Chinese Overseas Exchange Asosiation (COEA), sebuah lembaga pemerintah Tiongkok yang bergerak di bidang pengembangan bahasa dan budaya Tionghoa.

Kegiatan serupa rutin dilakukan setiap tahun. Peserta kegiatan adalah anak remaja mulai 12-18 tahun. “Pada dasarnya, pesertanya adalah anak yang sudah mandiri, tapi masih masa belajar. Kadang ada yang sampai dengan 23 tahun juga, tapi yang ini cuma sampai 18 tahun. Tergantung pelaksana sana,” kata Sekretaris BKPBT sekaligus pemilik Xinlong Mandarin Education Center, Nicodemus Sanny, Rabu (6/12/2017).

Sanny mengatakan, program ini selain ingin mengenalkan potensi wisata, budaya, dan bahasa di Tiongkok, juga bertujuan menarik minat remaja Indonesia untuk menempuh studi di negara itu. Tiongkok sendiri merupakan asal Bahasa Mandarin, sehingga pendalaman bahasa akan lebih terasah.

Menurutnya, program COEA ini efektif dalam menambah peserta didik dari Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya mahasiswa Indonesia yang kuliah di Tiongkok mengenakan jaket kuning sebagai simbol kegiatan COEA. “Ciri peserta program ini [COEA] adalah berseragam jaket kuning dan saya menemukan banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana memiliki kaus atau jaket itu,” tutur Sanny.

Dalam study tour tersebut, peserta tinggal di asrama Beijing Language and Culture College (BLCC). BLCC membawa para peserta ke daerah timur laut Tiongkok yaitu Harbin selama enam hari. Harbin merupakan wilayah utara yang memiliki iklim seperti negara Eropa, penuh salju dan es musim dingin.

Untuk mengikuti study tour ini, peserta membayar biaya perjalanan sebesar Rp16,8 juta yang terdiri dari tour ke Harbin, Visa, tiket Jakarta-Beijing pp, suvenir untuk pihak Tiongkok, tiket kereta Beijing-Harbin pp, dan administrasi. Biaya subsidi diberikan oleh OCEA sehingga biaya di Tiongkok digratiskan meliputi, transportasi, akomodasi, makan satu hari tiga kali, pendidikan, dan tiket masuk obyek wisata.

Kegiatan ini sudah dibuka untuk 30 orang sejak 1 April 2017 lalu. Jogja mengirimkan 27 peserta dengan tiga laoshi atau guru Bahasa Mandarin. Sementara peserta seluruh Indonesia adalah 69 orang.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…