Suwarji, 73, warga Dukuh Tawangsari RT 001, Desa Soka, Kecamatan Miri, Sragen, mengikuti VCT gratis di pelataran makam Pangeran Samodro Gunung Kemukus, Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Suwarji, 73, warga Dukuh Tawangsari RT 001, Desa Soka, Kecamatan Miri, Sragen, mengikuti VCT gratis di pelataran makam Pangeran Samodro Gunung Kemukus, Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Rabu, 6 Desember 2017 10:00 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Temuan HIV/AIDS di Sragen Capai 769 Kasus Per November 2017

Kasus HIV/AIDS di Sragen bertambah.

Solopos.com, SRAGEN — Angka temuan kasus penderita HIV/AIDS di Bumi Sukowati mengalami peningkatan pada dua bulan terakhir. Data per September 2017, angka kasus HIV/AIDS di Sragen mencapai 745 kasus menjadi 769 kasus per November 2017. Selama Oktober-November, ada 24 kasus HIV/AIDS yang ditemukan stakeholders Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen.

Data tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Hargiyanto dalam peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2017 yang digelar di pelataran Makam Pengeran Samodro Gunung Kemukus, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017) siang.

Hargiyanto memerinci ratusan kasus tersebut terbagi atas 328 kasus HIV dan 441 kasus AIDS. Sebanyak 104 orang di antaranya, kata dia, meninggal dunia akibat virus mematikan itu.

“Kasus tersebut menyebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sragen. Berdasarkan jenis pekerjaannya, kelompok wiraswasta menempati posisi tertinggi sebanyak 244 orang atau 31,4%. Kemudian ibu rumah tangga menempati peringkat kedua kasus tertinggi, yakni 156 orang atau 20,26%. Peringkat ketiga justru pekerja seks komersial (PSK) sebanyak 74 orang atau 9,6%. Jumlah anak penderita HIV yang berumur 0-9 tahun sebanyak 22 orang,” ujar Hargiyanto.

Hargiyanto berharap setiap desa bisa membentuk warga peduli AIDS (WPA) yang bisa dialokasikan lewat anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDesa). Selain itu, Hargiyanto menyatakan setiap puskesmas di Sragen bisa melayani pemeriksaan atau tes darah atau voluntary conseling anda testing (VCT).

“Kemudian RS baik negeri atau swasta harus siap melayani pelayanan HIV secara paripurna, yakni deteksi dini dan pengobatan. Dengan semua stakeholders bergerak maka target tree zero pada 2020 dan tereliminasinya siplis, HIV, dan tubercolosis (TB) 2030 bisa tercapai,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyosialisasikan kepada warga yang hadir untuk ikut membantu pemerintah dalam pendeteksian penyakit HIV. Dia berharap para tokoh masyarakat, ibu PKK, ketua RT, bila menemukan warganya yang dicurigai menderita HIV segera melaporkan kepada aparat setempat, baik di tingkat desa, puskesmas, dan seterusnya.

“Upaya itu dilakukan agar bisa segera mendapat penanganan medis. Penyakit HIV itu memang tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikelola. Bagi warga bisa mengikuti tes VCT secara gratis di kompleks Kemukus ini,” tambahnya.

Parjiyanto, 50, warga Dukuh Pancuran RT 024, Desa Soka, Miri, Sragen, membaranikan diri maju. Dia meminta Bupati menghilangkan prostitusi dan kemaksiatan yang ada di Kemukus.

“Kendati rumah saya dekat, ya baru kali ini saya menginjakkan kaki di Gunung Kemukus. Kalau tidak diundang dalam acara yang dihadiri Bupati, saya mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di wisata ini,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
Salesman & Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…