Seorang petani ikan tengah memperbaiki tanggul kolamnya di Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Selasa (5/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Seorang petani ikan tengah memperbaiki tanggul kolamnya di Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Selasa (5/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 6 Desember 2017 12:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Peternak Ikan Budidaya di Bantul Kini Menelan Pil Pahit

Sektor perikanan terdampak paling parah.

Solopos.com, BANTUL–Berdasarkan data Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul, sektor perikanan terdampak paling parah akibat banjir yang disebabkan Siklon Tropis Cempaka akhir November lalu. Kerugian diprediksi mencapai Rp1,8 miliar rupiah.

Kerugian itu mencakup rusaknya sarana dan prasarana dan hanyutnya ikan budidaya. Kejadian banjir memang memaksa para peternak ikan budidaya menelan pil pahit lantaran merugi. Salah seorang petani ikan, Yusril mengakui banjir yang melanda wilayah Kabupaten Bantul pada Selasa (28/11/2017) lalu cukup merepotkan para petani ikan. Pasalnya banyak ikan, baik yang bibit maupun siap panen, terbawa arus air akibat banjir.

Akibatnya banyak ikan yang hilang atau mati, konstruksi kolam terutama kolam tanah seperti miliknya juga rusak terkena terjangan air tersebut. Meskipun ikan di belasan kolam miliknya tidak sampai hanyut ke Sungai Gajahwong yang terletak persis di selatannya, namun seluruh ikan yang ada saling bercampur. “Yang sudah siap panen bercampur dengan yang masih 1,5 bulan. Cukup kerepotan memisahkan,” ucapnya saat ditemui di kolamnya di Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Selasa (5/12/2017).

Tak hanya itu saja, Yusril pun harus memperbaiki pematang yang jebol. Saat didatangi Solopos.com, ia sedang menanggul kolam dengan menggunakan sak berisi tanah. Menurutnya di Kecamatan Banguntapan ada beberapa dusun yang terdampak cukup parah seperti Grojogan, Botokenceng dan Balong. “Yang Balong itu banyak yang jebol perikanannya,” ucapnya. Sedangkan kolamnya cukup aman dari derasnya air Sungai Gajahwonh karena tanggul sungai cukup tinggi dan permanen. Air malah datang dari atas karena kolamnya tersebut terletak di cekungan tanah yang cukup dalam.

Kepala Diperpautkan Bantul, Pulung Haryadi membenarkan hal tersebut. Menurutnya ada beberapa kecamatan yang sektor perikanannya terdampak paling parah yakni Banguntapan, Pandak, Kretek dan Jetis. Total ada sekitar 500 kolam yang terdampak. Padahal budidaya ikan ink digadang-gadang jadi alternatif pemenuhan kebutuhan ikan di Bantul karena produktivitas nelayan yang menurun akibat cuaca yang tak bersahabat. “Yang terdampak parah terutama kolam terpal dan tanah,” imbuhnya.

Pulung mengaku pihaknya belum dapat memberikan bantuan berupa benih ikan untuk mengganti kerugian ini. Sebab kini para petani ikan masih fokus untuk memperbaiki sarpras yang rusak agar dapat dipakai kembali pada 2018 mendatang.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…