Ilustrasi (Istimewa/Reuters)
Rabu, 6 Desember 2017 16:20 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

KRIMINAL JOGJA
Kuli Pasar Beringharjo Ini Suka Jalan-Jalan di Kawasan Kos, Ternyata Punya Maksud Jahat

Philip Sofyan, 47, kuli panggul pasar Beringharjo dan Terminal Giwangan dibekuk aparat

Solopos.com, JOGJA –– Philip Sofyan, 47, kuli panggul pasar Beringharjo dan Terminal Giwangan dibekuk aparat, Kamis (30/11/2017). Pasalnya pria asal Sumatera Utara itu terbukti melakoni pekerjaan sampingan sebagai pencuri sepeda onthel.

Kapolsek Gondokusuman, Komisaris Polisi Solichul Ansor, melalui Kanit Resor Kriminal Polsek Gondokusuman, Iptu Bambang Dwi M. mengungkapkan, pria yang juga akrab dipanggil Jepang itu sering sengaja berputar-putar di berbagai tempat untuk mencari sepeda.

“Modus biasanya dia muter2 di kos-kosan dan spesialisasinya memang mencuri sepeda ontel itu. Jalan kaki, terus mengamati kos-kosan, kalau ada sepeda disikat tadi itu,” jelas Bambang Rabu (6/12/2017) siang.

Adapun kali ini, pria itu harus kembali mendekam di sel karena terbukti mencuri sepeda Polygon Sera seharga Rp1,8 juta. Di mana Jepang, digelandang ke Mapolsek Gondokusuman oleh warga dan korban.

Awalnya korban yang tinggal di salah satu Kos di kawasan Demangan mencari sepedanya yang raib di halaman kosannya.
Korban yang tak mengikhlaskan sepeda hilang, korban yang juga mahasiswa itu bertanya kepada orang-orang di sekitar kosan.

“Kamis tanggal 30 november jam 3 pagi salah satu rumah kos di Demangan, sepeda diparkir di halaman indekos, yang punya tidur jam 11. Dan bangun pagi2 gak ada tadi itu sepedanya,” jelas Bambang.

Untung saja, salah satu tetangga korban melihat sepeda dengan ciri yang sama. “Diketahui warga setempat, dibawa ke TKP pemiliknya[korban] ternyata benar sepedanya tadi,” jelas Bambang.

Bambang juga menambahkan bahwa pelaku sudah pernah tertangkap dengan tuduhan kasus yang sama. Di mana pada 2014, pelaku tertangkap di wilayah Polsek Gondokusuman juga.

“Di Gondokusumank tahun 2014 pernah ketangkep, dan sudah dua kali sama ini. Di Polresta juga pernah sekali. Jadi sudah tiga kali ini yang diproses kepolisian,” katanya.

Dari tiga kasus, Jepang mengakui bahwa dirinya selalu sendiri dalam menjalankan perbuatan tidak terpujinya. “Dijual untuk biaya hidup, karena buruh dan kurang uang dia itu,” pungkasnya.

lowongan pekerjaan
Salesman & Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…