Jumpa media Pasar Keroncong, Rabu (6/12/2017). (Birgita Olimphia Nelsye/Harian Jogja) Jumpa media Pasar Keroncong, Rabu (6/12/2017). (Birgita Olimphia Nelsye/Harian Jogja)
Rabu, 6 Desember 2017 18:20 WIB M110/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Keroncong Zaman Now akan Digelar di Kotagede

Pasar Keroncong tahun ketiga akan digelar kembali tahun ini

Solopos.com, JOGJA- Pasar Keroncong tahun ketiga akan digelar kembali tahun ini. Ini disampaikan dalam jumpa media yang digelar Rabu (6/12/2018) pukul 12.00-13.00 WIB di Kedai Kolega, Jogjatorium Dagadu Djogja Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Jogja.

Pasar keroncong akan diselenggarakan pada Sabtu (9/11/2017) mendatang di Seputaran Pasar Kotagede. Ada tiga panggung, yaitu Panggung Loring Pasar di Utara Pasar Kotagede, Panggung Sopingen di Halaman Pendopo Sopingen, dan Panggung Kajengan di Utara Masjid Perak Kotagede.

Acara ini menjadi ajang bertemunya pelaku keroncong maupun penikmat keroncong. Tema yang diusung kali ini yaitu Gotong Keroncong.

“Maksudnya, tema gotong keroncong ini merespon kesiapan Kotagede untuk mengeratkan kembali kegiatan gotong royong antara pengagas, panitia, masyarakat dalam menyiapkan acara ini. Ini nampak dalam kerja sama mereka sejak Juli 2017,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata DIY, Rose Sutikno.

Ia berharap acara ini bisa melestarikan budaya yang ada di Jogja, khususnya keroncong Kotagede. Ini karena keroncong seolah-olah hanya musiknya orang tua. Dengan event ini, keroncong bisa menarik penikmat musik dari kalangan muda.

Djaduk mengatakan, 70% dari 12 grup yang akan tampil adalah anak muda, sedangkan 30% musisi senior. Dari Kotagede ada 5 grup, lainnya tamu-tamu dari luar.

“Ada 12 grup yang akan tampil. Tetapi akan dilengkapi dengan grup-grup lain yang akan mengeksplore keroncong, seperti Bonita dan Endro yang memadukan jazz dengan keroncong,” terang Djaduk Ferianto, tim kreatif yang juga merupakan penggiat acara Pasar Keroncong.

Sudah saatnya keroncong bisa berubah tapi tidak meninggalkan esensinya.

“Inilah new keroncong, keroncong zaman now dengan interpretasi baru. Bukan merusak keroncong. Karena selama ini ketika ada anak muda yang mencoba mengeksplore seni, justru dicurigai merusak keroncong. Padahal keroncong adalah produk seni yang indikatornya adalah terus berkembang,” tegas dia.

Ini dapat memacu pemain untuk mengemas lagu-lagu lain dengan standar keroncong,” jelas Agus Siho, dari komunitas orkes keroncong Kharisma.

Acara ini diharapkan Djaduk bisa menjadi sentral pertemuan musisi-musisi keroncong sehingga musik ini bisa berkembang. Pihaknya ingin keroncong tidak berhenti sebagai klangenan (kangen-kangenan). Tapi sebagai media yang mendekatkan kembali keroncong ke publik.

Kelompok orkes keroncong yang menarik akan ikut mewarnai jagat Pasar keroncong.

“Ada OK Kharisma, orkes keroncong yang berselera humor, tetapi ruhnya tetap keroncong. Ada Sruti Respati, penyanyi generasi terakhir seangkatan dengan Maljinah. Sruti merupakan penyanyi keroncong yang melebar juga ke jazz. Selain itu, Orkes Keroncong (OK) Dara dan OK SMM yang kesemua anggotanya perempuan”, jelas Djaduk.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…