Ilustrasi penyortiran benih ikan. (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi penyortiran benih ikan. (JIBI/Solopos/Antara)
Rabu, 6 Desember 2017 08:20 WIB Rima Sekarani IN/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Dampak Badai Cempaka, Usaha Perikanan Budi Daya Kulonprogo Rugi Ratusan Juta

“Hanya empat kecamatan yang benar-benar aman”

Solopos.com, KULONPROGO-Hujan berintensitas tinggi yang terjadi selama siklon tropis Cempaka pada pekan lalu juga berdampak buruk terhadap usaha perikanan budidaya di Kulonprogo. Kerugian yang ditimbulkan ditaksir mencapai lebih dari Rp710 juta.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulonprogo Sudarna mengungkapkan, para pembudi daya ikan tidak hanya merugi akibat kolamnya terdampak banjir. Beberapa kolam budidaya juga diketahui rusak akibat terkena longsor, yaitu di wilayah Girimulyo dan Samigaluh.

“Hanya empat kecamatan yang benar-benar aman. Tidak ada kerugian di Pengasih, Kalibawang, Temon, dan Kokap,” kata Sudarna, Selasa (5/12/2017).

Sudarna memaparkan, kerugian materi antara lain dihitung dari banyaknya ikan budidaya yang hanyut terbawa banjir. Dia menyontohkan dampak dari banjir yang menimpa hampir semua desa di wilayah Panjatan. Setidaknya ada 82.000 ekor lele, 30.000 gurami, dan 9.000 lele yang dilaporkan hilang.

Kerugian yang tidak kalah banyak juga dialami Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Tritorahayu, Galur. Mereka kehilangan sekitar 6.000 ekor gurami, 30.000 lele, dan 13.000 nila yang diklaim sudah siap panen.

Menurut Sudarna, besarnya kerugian pada usaha perikanan budidaya juga dipengaruhi harga jual ikan yang sedang dalam posisi cukup baik belakangan ini. Pembudidaya ikan seharusnya bisa menjual lele siap panen seharga minimal Rp15.000 per kilogram (kg), sedangkan harga gurami dan nila rata-rata adalah Rp25.000 per kg.

Jika kolam mereka juga ikut rusak, tambahan kerugiannya bisa mencapai Rp5 juta per unit. “Berdasarkan hitungan kasar kami, total nilai kerugiannya sekitar Rp710,350 juta,” ujar Sudarna.

Berbagai kerusakan dan kerugian yang terjadi akibat banjir dan longsor dipastikan bakal berpengaruh negatif terhadap produktivitas perikanan budi daya tahun ini. Sudarna mengatakan, Pemkab Kulonprogo mengupayakan adanya bantuan untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak.

Namun, penyerahan bantuan tidak bisa dilakukan bersamaan tetapi secara bertahap karena keterbatasan kemampuan anggaran daerah. “Pemberian bantuan tidak serta merta dapat diberikan. Perlu melalui prosedur penganggaran terlebih dahulu,” ungkap dia.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulonprogo, Gusdi Hartono menyebutkan total kerugian materiel yang disebabkan banjir, longsor, dan pohon tumbang di sepanjang akhir November kemarin mencapai sedikitnya Rp10,78 miliar. Angka itu merujuk pada kerusakan sejumlah infrastruktur, termasuk permukiman warga.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…