Kepala Desa Mlese Sanyoto memandangi areal pertanian desanya yang terendam air, Kamis (15/5/2014). Setidaknya 4 hekatre sawah terancam gagal panen karena air dari luapan Sungai Mlese belum kunjung surut. (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos) Ilustrasi banjir (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)
Rabu, 6 Desember 2017 10:28 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

BANJIR KLATEN
61 Ha Lahan Padi di Wedi Puso karena Terendam Air

Banjir Klaten menyebabkan puluhan hektare lahan padi puso.

Solopos.com, KLATEN – Lahan padi seluas 61 hektare (ha) di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, dipastikan puso akibat kebanjiran pekan lalu. Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, sawah ditanami padi seluas 521 ha masih tergenang air hingga Minggu (3/12/2017) tersebar di enam kecamatan.

Rata-rata usia tanaman padi yang terendam 10-50 hari setelah tanam. Dari total luas sawah tergenang itu, 61 ha sawah ditanami padi yang dipastikan puso tersebar di empat desa wilayah Kecamatan Wedi yakni Desa Melikan seluas 37 ha, Desa Pacing seluas 20 ha, Desa Jiwowetan seluas 3 ha, dan Desa Brangkal seluas 1 ha.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Wahyu Prasetyo, mengatakan pendataan jumlah petani pemilik sawah yang puso masih dilakukan. Para petani bisa mendapatkan bantuan benih dari pemerintah atau diajukan klaim untuk petani yang mengikutkan sawahnya pada program asuransi usaha tani padi (AUTP) dikelola PT Jasindo.

“Kalau ikut AUTP kami proses pengajuan klaim. Sementara, kalau tidak ikut baru bisa diberikan bantuan benih. Kalau yang sudah ikut AUTP kan tidak bisa diajukan bantuan benih ke pusat atau provinsi. Kalau ikut AUTP bisa mendapatkan klaim per ha Rp6 juta,” kata Wahyu, Senin (4/12/2017).

Cadangan benih di tingkat kabupaten saat ini tinggal 500 kg. Namun, petani diminta tak perlu khawatir lantaran stok benih bantuan bisa diajukan ke pemerintah provinsi atau pusat. “Cadangan benih nasional di kementerian itu banyak. Petani tidak perlu khawatir soal itu kalau memang tanamannya rusak karena puso lo ya,” urai dia.

Wahyu mengatakan masih ada 460 ha sawah di lima kecamatan yakni Cawas, Karangdowo, Trucuk, Bayat, dan Gantiwarno yang tergenang. Sawah-sawah itu saban hari dalam pemantauan petugas four in one terdiri dari penyuluh pertanian lapangan (PPL), mantri tani, pengamat hama, serta Babinsa.

“Kami belum bisa menyatakan sawah itu puso. Kami tetap upayakan bersama petani untuk menyedot menggunakan pompa besar atau kecil mengurangi genangan air. Kami sudah tekankan ke four in one usaha pengurangan itu dibarengi doa supaya hujan yang mengguyur tidak sampai menyebabkan banjir seperti kemarin,” ungkapnya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cawas, Slamet Mulyana, mengatakan luas sawah yang terendam awalnya mencapai 1.000an ha. Namun, air lantas surut hingga sawah yang terdampak banjir tersisa 358 ha.

“Masih menunggu beberapa hari lagi untuk memastikan puso atau tidak. Yang berhak menentukan puso itu dari Pengamat OPT,” ungkapnya, Selasa (5/12/2017).

Slamet menjelaskan upaya pengurangan air yang masih mengenangi tanaman padi sudah dilakukan dengan menyalurkan melalui saluran-saluran irigasi. PT Jasindo juga mulai melakukan pendataan mengecek sawah yang diikutkan AUTP.

“Yang ikut AUTP itu bisa mendapatkan klaim kalau luasan kerusakan lebih dari 75 persen. Selain itu, usia tanaman harus sudah lebih dari 10 hari,” urai dia.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…