Basarnas DIY, SAR DIY, BPBD DIY dan Sabhara Polresta Jogjakarta sedang berupaya menyelamatkan 2 lansia dan bayi korban longsor di RT 1 / RW 1, Jlagran, Jogja. (Harian Jogja/Beny Prasetya) Basarnas DIY, SAR DIY, BPBD DIY dan Sabhara Polresta Jogjakarta sedang berupaya menyelamatkan 2 lansia dan bayi korban longsor di RT 1 / RW 1, Jlagran, Jogja. (Harian Jogja/Beny Prasetya)
Selasa, 5 Desember 2017 16:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Tanah Longsor Bukan Semata karena Badai Cempaka, Ada yang Salah dalam Tata Perumahan di Jogja

Bencana yang telah menimpa DIY beberapa waktu seharusnya bisa menjadi pelajaran dalam hal mitigasi bencana.

Solopos.com, JOGJA– Wakil Ketua DPRD DIY Dharma Setyawan mengungkapkan bencana yang telah menimpa DIY beberapa waktu seharusnya bisa menjadi pelajaran dalam hal mitigasi bencana.

Baca juga : Khawatir Longsor Susulan, 76 Keluarga di Jogja Masih Mengungsi

Bencana akibat Siklon Tropis Cempaka memang tak bisa dihindarkan. Tapi menurutnya, beberapa kejadian tidak hanya disebabkan oleh badai itu semata, namun juga bersumber dari tata perumahan yang sudah salah kaprah.

Sebab daerah yang semestinya sudah terlarang dijadikan pemukiman, tetap saja ditinggali. Karena itulah Dharma menyebut program Mundur, Munggah, Madep Kali (M3K) sudah seharusnya dijalankan segera.

“Ini petunjuk dari Allah, ‘ayok segera perbaiki’. Tapi kalau terus menerus [terjadi hal yang sama] Tuhan akan bosan [memperingatkan],” katanya, Senin (4/12/2017).

Tak hanya itu, ia juga menilai penyerapan di wilayah utara kurang bagus sehingga air dalam jumlah besar selalu menuju selatan saat hujan terus menerus datang.

Dharma mengatakan atas kondisi tersebut DPRD DIY telah mendorong Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY untuk meningkatkan tutupan vegetasi.

“Maksudnya tutupan vegetasi ditingkatkan supaya penyerapan mejadi lebih baik. Dicari tempat yang kosong dan dibuat masterplan. Langkah itu sudah mulai dalam tahap kajian. 2018 akan dibuat masterplannya. Upaya pencegahan memang harus. Jangan hanya langkah taktis tapi juga strategis. Daerah kering seperti Gunungkidul juga mesti ada persiapan,” tegasnya.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…