Evakuasi warga di Desa Bejen, Kecamatan Bantul, ketika Badai Cempaka menerjang DIY dan mengakibatkan banjir, Selasa (28/11/2017).(Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Evakuasi warga di Desa Bejen, Kecamatan Bantul, ketika Badai Cempaka menerjang DIY dan mengakibatkan banjir, Selasa (28/11/2017).(Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 Desember 2017 20:46 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Selasa Tanpa Jeda di Pusdalops Bantul

Relawan bencana berjuang keras selamatkan warga.

Solopos.com, BANTUL–Selasa (28/11/2017) lalu jadi hari tanpa jeda di lantai kedua Gedung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul. Beberapa personel jawatan ini bahkan tak sempat pulang berhari gara-gara amukan Badai Cempaka. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Rheisnayu Cyntara.

Di ruangan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops), frekuensi radio kedaruratan tak henti-hentinya berbunyi, ditimpali dengan permintaan bantuan di sana sini. Wajah-wajah tegang memenuhi ruangan. Tak ada yang sempat bergurau atau membicarakan ihwal selain usaha menyelamatkan korban banjir dan tanah longsor yang kian waktu makin bertambah. Setiap ada penambahan lokasi luapan air maupun tanah berguguran yang sulit ditembus, helaan napas berat beberapa sukarelawan sangat jelas terdengar.

Hari kian sore, hujan lebat belum juga berhenti membanjiri Kabupaten Bantul. Selokan di depan kantor BPBD Bantul sudah meluap sedari tadi. Di dalam ruangan, identitas sudah tak bisa lagi dibedakan. Setiap ada perintah untuk terjun ke lokasi becana, tak ada lagi yang peduli apa jabatan dan kedudukannya.

Manajer Pusdalops Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, mondar-mandir keluar masuk ruangan. Kemeja cokelat seragam dinasnya masih terlihat rapi, tetapi guratan-guratan lelah di wajahnya tak bisa ditutupi. Sebagai manajer, tugas yang diembannya cukup berat. Aka harus memverifikasi data yang masuk dan meneruskannya ke Kepala BPBD, baik di Bantul maupun DIY, agar bantuan bisa tepat sasaran.

Tak hanya Aka yang sibuk. Seluruh petugas penanggulangan bencana bahkan tak sempat mengisi perut mereka. Tumpukan dus berisi nasi tak digubris sama sekali, masih rapi diikat rafia di ruangan ganti. Tiba-tiba, Wiwin Efendi atau yang biasa dipanggil Pithi menghampiri meja di tengah ruangan. Ia panik. Kata-kata yang berhamburan dari bibirnya terdengar berkejaran.

“Ada pasien dan petugas klinik terjebak di lantai kedua klinik di Siluk, Imogiri sejak siang. Ada yang baru melahirkan. Ini nomor hape ra ana sik isa dihubungi,” ucapnya tergesa.

Semua orang terdiam sejenak. Pithi menyambar microphone radio kedaruratan, menyisir personel yang kemungkinan berada di sekitar Siluk. Kabar tersebut telah viral sejak sore lewat media sosial. Namun sampai menjelang malam, nomor yang tertera dalam infomasi tersebut belum juga dapat dihubungi.

Menjelang tengah malam, Pithi tergesa berganti baju, bersiap terjun ke genangan banjir. Satu tim yang seyogyanya menyelamatkan warga Dusun Dobogan, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, malah terjebak tak bisa keluar lantaran arus yang makin deras. Bahkan menurut informasi yang sampai di Pusdalops BPBD Bantul, Kapolres Bantul juga ada dalam tim tersebut.

Anggota BPBD dan sukarelawan dari Mapala UGM segera berangkat dengan mobil pemadam kebakaran. Sesampai mereka di Bejen, Kecamatan Bantul, mobil pemadam dicegat warga yang meminta pertolongan. Di Kota Bantul, ada beberapa orang yang terperangkap dalam kepungan air. Satu dari mereka lumpuh. Keputusan harus segera diambil. Mobil merah tersebut berbelok arah, tak jadi meneruskan perjalanan ke Imogiri.

“Kita belok. Sriharjo sudah ada yang menangani,” ujar Pithi memberikan perintah.

Begitu tiba di lokasi yang dimaksud warga, perahu karet diturunkan. Air sudah setinggi lutut orang dewasa dan sangat deras, sulit ditembus tanpa menggunakan alat bantu. Perahu karet menuju rumah di ujung gang, tempat penduduk yang lumpuh tak bisa ke mana-mana. Berkejaran dengan waktu, perahu karet dikayuh kuat-kuat. Perahu dihentikan, ditahan pilar-pilar rumah. Pintu telah terbuka. Pithi dengan badannya yang kecil bergegas masuk ke dalam.

Sekitar 20 menit kemudian ia keluar dengan membopong perempuan paruh baya yang tubuhnya lunglai. Dua warga lain diselamatkan. Derasnya air menyusahkan gerak tim. Perahu karet beberapa kali terhempas arus. Tak ada lagi baju yang kering. Evakuasi baru selesai sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Pithi yang hari itu bekerja nyaris tanpa mengaso segera terlelap di atas empat kursi yang disejajarkan di ruang ganti.

Ratusan orang yang terjebak di Desa Sriharjo, baru bisa ditolong pada Rabu (29/11/2017) siang. Sedangkan Aka baru bisa pulang ke rumah Kamis (30/11/2017).

“Cuma mampir dua jam, balik ke kantor lagi. Minggu baru bisa tidur di rumah,” kata dia, Senin (4/11/2017).
Menurut dia, semua personel sudah siaga dalam keadaan darurat seperti itu. Bahkan baju ganti telah siap di loker, tak pulang ke rumah beberapa hari pun tidak masalah. “Cuma enggak ada masakan rumah di posko,” ucapnya sambil terkekeh.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…