Wisatawan beraktivitas di Pura Besakih yang berlatar belakang Gunung Agung meletus di Karangasem, Bali, Selasa (28/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Nyoman Budhiana)
Selasa, 5 Desember 2017 12:00 WIB JIBI/Solopos/Antara Peristiwa Share :

PVMBG Sebut Deformasi Gunung Agung Bali Fluktuatif

Gunung Agung Bali mengalami pengembungan.

Solopos.com, KARANGASEM — Pengembungan (deformasi) yang terjadi di Gunung Agung Bali cenderung berfluktuasi dan mengalami pengerutan (deflasi) akibat pertambahan beban yang ada di permukaan kawah atau berkurangnya tekanan dalam tubuh gunung.

“Deflasi ini ukuran mikro radian, artinya adanya fluktuasi yang belum stabil akibat isi perut Gunung Agung mengeluarkan gas dan lava,” kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana, di Pos Pemantauan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Selasa (5/12/2017).

Dia mengatakan dari pantauan citra satelit jumlah lava yang ada di dalam kawah gunung setinggi 3.142 mdpl ini jumlahnya hampir 20 juta meter kubik yang tercatat pada 2-3 Desember 2017.

“Dibandingkan pada saat kondisi Gunung Agung sebelum masuk fase krisis [overscale] justru terjadi inflasi [mengembang], akibat perut gunung berisi material magmatik,” ujar dia.

Devy Kamil Syahbana membandingkan kejadian meletusnya Gunung Sinabung yang mengeluarkan material vulkanik mencapai 1,5 juta hingga dua juta meter kubik terpantau jangkauannya mencapai lima kilometer.

Devy menegaskan deflasi (pengerutan) terjadi di semua sisi tubuh Gunung Agung Bali dan membandingkan kejadian meletusnya gunung tertinggi di Bali ini pada Tahun 1963 akibat pertumbuhan lava yang sangat cepat mengisi penuh kawah sehingga keluar guguran lava dan awan panas satu hari setelah erupsi.

Namun, kondisi Gunung Agung saat ini justru berbanding terbalik setelah terjadinya erupsi, justru terjadinya perlambatan pergerakan lava untuk mengisi isi kawah.

“Mungkin disebabkan kawah tahun 1963 tidak terlalu besar seperti saat ini, sehingga kami akan melakukan evaluasi akselarisasinya seperti apa,” ujarnya.

Devy Kamil Syahbana menambahkan perkembangan terakhir Gunung Agung dipantau sejak Senin pagi (4/12/2017) hingga Selasa pagi atau selama 24 jam teramati asap berwarna putih dan emisi gas terpantau tinggi pada pukul 08.57 Wita ada embusan gas mencapai ketinggian 1.500 meter dari puncak dengan warna putih agak kelabu.

Untuk aktivitas kegempaan low frekuensi yang berkaitan dengan aliran fluida (gas dan cair) kepermukaan terpantau ada gas yang dilepaskan. “Kadang mengeluarkan suara letupan, apabila energi yang dikeluarkan cukup besar,” ujar Devy Kamil Syahbana.

LOWONGAN KERJA
PAUD EL-MEDINA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…