Mbah Saliyem, 82, membopong paket sembako seharga Rp43.000 yang dibelinya dari pasar murah di Balai Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Mbah Saliyem, 82, membopong paket sembako seharga Rp43.000 yang dibelinya dari pasar murah di Balai Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 5 Desember 2017 18:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Nenek Saliyem Jalan Kaki 1 Km Demi Beli Sembako Murah di Sumberlawang Sragen

Disperindag Sragen menggelar pasar murah di Sumberlawang.

Solopos.com, SRAGEN — Nenek-nenek berusia 82 tahun itu berjalan perlahan sembari menyodorkan dua lembar kertas kepada petugas yang mengenakan seragam kaus warna hijau. Dua carik kertas itu tidak lain fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). Saliyem, demikian nama orang tua asal Dukuh Senalan RT 022, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen.

Saliyem menjadi salah satu warga dari 600 orang warga Desa Pendem yang antre membeli sembako di Aula Desa Pendem, Selasa (5/12/2017).

Di aula itu juga ada 600 orang warga dari Desa Soka, Kecamatan Miri, Sragen, yang sama-sama antre. Antrean warga dua desa itu hanya dipisahkan tali. Semula Saliyem ikut antre di tempat warga Desa Soka. Setelah diverifikasi, akhirnya Saliyem dipindahkan ke antrean warga Desa Pendem.

Setelah mendapat giliran, ibu dari empat anak itu berjalan pelan-pelan mendekati meja petugas. Ia sodorkan dua kertas yang dibawa dari rumah. Kertas itu dikeluarkan dari kantung plastik transparan. Setelah sesuai dengan data petugas, Saliyem bergeser ke meja sampingnya untuk pembelian sembako.

“Uangnya mana, Mbah?” tanya petugas. Saliyem mengeluarkan semua uang yang dimilikinya dari balik stagen. Uang itu terdiri atas uang Rp5.000-an dan Rp2.000-an.

Dibelikan Orang

Setelah dihitung petugas, uang Saliyem hanya senilai Rp27.000. Padahal harga satu paket sembako senilai Rp43.000/paket. “Mbah, uangnya kurang. Ini hanya Rp27.000,” ujar petugas lagi.

Saliyem kebingungan. “Hla kula namung gadah niku. Pripun? [Hla saya hanya punya uang itu. Bagaimana?],” ujar Saliyem. Tiba-tiba ada seseorang datang dan membelikan paket sembako untuk Saliyem.

Ia sangat senang sekali. Ia mendapat satu plastik berisi telur 1 kg, beras 2 kg, gula 1,5 kg, dan minyak goreng kemasan 1 liter. “Matur nuwun [terima kasih] ya, Nak!” ujar Saliyem.

Ia berjalan kaki dari rumah yang berjarak sekitar 1 km mengenakan sandal seadanya. Saat pulang, ia pun bingung karena sembako yang dibawanya berat. Seorang petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Mas Wit, berinisiatif mengantarkan Saliyem sampai ke kediamannya dengan membawa motor.

Saliyem tinggal di sebuah rumah sederhana berdinding asbes bersama suaminya, Marto Rejo Kardi, 87. Marto tidak bisa berjalan sejak empat tahun terakhir karena kakinya bengkak akibat luka luar yang tak kunjung sembuh.

“Enggak tahu sakit apa ini. Dulu, hanya kecocok [terkena] ranting bambu runcing. Akibatnya sampai seperti ini dan tidak bisa jalan,” ujar Marto saat berbincang dengan Solopos.com di kediamannya.

Saliyem yang merawat suaminya itu. Kendati sudah tua, mereka masih saling menjaga. Untuk kebutuhan makan dan minum, Saliyem dan Marto hanya mengandalkan anak perempuannya yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

Disperindag Sragen

Sosok warga miskin seperti Saliyem itulah yang menjadi sasaran program pasar murah yang dihelat Disperindag Sragen di tujuh lokasi di wilayah Bumi Sukowati sejak Rabu (29/11/2017) lalu dan berakhir pada Senin (11/12/2017) mendatang.

Kabid Pengembangan dan Pembinaan Perdagangan Disperindag Sragen, Boghy Yeano Wibowo, saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela pasar murah Sumberlawang, mengatakan pasar murah ini menyasar 8.000 warga miskin dari 14 kecamatan.

“Kami menjual barang paket sembako bersubsidi. Harga sembako senilai Rp79.000/paket hanya dijual Rp43.000/paket karena ada subsidi minimal Rp35.000/paket. Upaya ini kami lakukan karena untuk menekan laju inflasi yang terjadi pada momentum Natal dan Tahun Baru. Kami sadar kegiatan ini hanya berdampak kecil tetapi minimal bisa membantu orang miskin,” ujarnya.

LOWONGAN KERJA
PAUD EL-MEDINA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…