Selasa, 5 Desember 2017 18:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Kekhawatiran Siswa dan Guru Jika UAS Menggunakan Sistem Komputer

Disdikpora DIY mendorong setiap sekolah menerapkan Ujian Akhir Semester Berbasis Komputer (UASBK)

Solopos.com, JOGJA – Disdikpora DIY mendorong setiap sekolah menerapkan Ujian Akhir Semester Berbasis Komputer (UASBK) terutama pada jenjang SMA/SMK.

Namun karena keterbatasan fasilitas laboratorium beberapa sekolah memilih masih menerapkan secara manual. Ada kekhawatiran terkait hasil dari ujian di kalangan siswa melalui pelaksanaan UASBK.

Nisa salah satu siswa di Kota Jogja menjelaskan, tahun ini sekolahnya telah menerapkan UASBK pada semua mata pelajaran. Ia menilai pelaksanaan memang lebih ribet, berbeda dengan saat manual, siswa tinggal menerima soal langsung dijawab dengan menulis.

Namun saat ini harus berpindah ke laboratorium mengikuti berbagai proses dalam aplikasi sofware, seperti dengan memasukkan pasword tertentu untuk dapat mulai menjawab.

“Agak ribet. Ini saja hasil nilai jeblok [jelek] semua, entah karena tertukar kunci jawaban atau memang jawaban yang kurang tepat, jadi banyak yang remidi,” ungkapnya kepada Harianjogja.com, Senin (4/12/2017).

Bahkan, kata dia, ada juga kejadian mata pelajaran tertentu untuk kelas XII namun justru yang dikerjakan soal kelas XI, sehingga satu kelas harus mengulang.

Menurut dia, soal setiap mata pelajaran dalam satu kelas memang sama, namun soal tersebut diacak nomornya. “Misalnya murid A, soal nomor satu [pertanyaannya] 2 + 3, tetapi di murid B bisa jadi soal itu berada di nomor 28,” ujar dia.

Terpisah, Kepala SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Nursalim mengatakan, pihaknya juga ingin menerapkan UASBK, namun belum bisa terealisasi karena keterbatasan fasilitas komputer. Tetapi untuk pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah berbasis komputer.

Jika memaksakan menerapkan UASBK, ia khawatir akan banyak kendala karena belum sebanding antara jumlah komputer dengan jumlah siswa. Jumlah siswa sekolahnya ada 365 siswa, sedangkan personal computer (PC) hanya tersedia 45 unit.

“Sebenarnya dengan jumlah komputer itu bisa, tetapi kami merasakan butuh kesiapan lagi terutama perangkat software yang harus benar-benar siap,” kata dia.

Ia menargetkan untuk pelaksanaan UASBK bisa terlaksana di sekolahnya pada tahun 2018 mendatang. Nursalim justru berharap UASBK ini bisa dikoordinasikan oleh Disdikpora DIY sehingga ada standardisasi seluruh soal yang diujikan.

“Tahun depan lah kami target bisa UASBK, akan kami coba anggarkan, fasilitas laboratorium tentu harus kamis siapkan,” kata dia.

Salah satu sekolah yang menjadi pelopor pelaksanaan UASBK adalah SMKN 5 Jogja. Sejak 2016 sekolah ini sudah menerapkan UASBK sehingga 2017 merupakan tahun kedua realisasinya pada semua mata pelajaran.

Maklum sekolah ini memiliki tujuh ruang laboratorium komputer yang selalu menjadi rujukan dan tempat pelaksanaan ujian berbasis komputer seperti Ujian Kompetensi Guru (UKG).

“Kendalanya hanya di penjadwalan penggunaan lab, tetapi bisa diatasi dengan bergantian dengan sistem tiga shift. Jika mati lampu kami pakai genset,” ungkap Kepala SMKN 5 Jogja Wiwik Indriyani.

Wiwik menegaskan, dalam pelaksanaan UASBK 2017 tidak ditemukan kendala karena sudah berkaca pada tahun sebelumnya. Selain itu, ia memiliki SDM yang cukup, salah satunya personel proktor atau petugas pengendali server UNBK yang berkompeten secara nasional.

Pengerjaan soal dlakukan secara offline dengan workshop bersama kemudian diubah ke format aplikasi plainteks setelah divalidasi, selanjutnya prokotnya mengunggahnya ke server.

Ia menilai jika sudah terbiasa, banyak keuntungan yang diperoleh melalui UASBK, seperti efektivitas waktu, pengolahan nilai menjadikan guru tidak perlu memeriksa secara manual serta melatih kejujuran dan objektivitasnya lebih terjamin.

“Kalau waktu, tergantung keluasan materi dan kompleksitas, dengan variasi jumlah soal berbeda, ada yang 45 menit, 60 menit atau 90 menit dengan jumlah soal 30, 40 atau 45 soal,” tegasnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
PURWACARAKA MUSIC STUDIO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…