Sampah plastik dan beragam jenis sampah lain yang ditinggalkan pengunjung usai malam pergantian tahun baru maupun saat liburan, berserakan di Pantai Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Minggu (1/2/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Sampah plastik dan beragam jenis sampah lain yang ditinggalkan pengunjung usai malam pergantian tahun baru maupun saat liburan, berserakan di Pantai Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Minggu (1/2/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 Desember 2017 11:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

CUACA EKSTREM
Sampah Menggunung, Nelayan Pantai Selatan Sulit Melaut

Tidak hanya merusak infrastruktur seperti jembatan, bangunan dan permukiman warga, siklon tropis Cempaka dan Dahlia juga menyisakan gunungan sampah

Solopos.com, BANTUL–Tidak hanya merusak infrastruktur seperti jembatan, bangunan dan permukiman warga, siklon tropis Cempaka dan Dahlia juga menyisakan gunungan sampah di tengah laut maupun pesisir Pantai Selatan. Akibatnya para nelayan kesulitan melaut karena kapal dan jaringnya sering tersangkut.

Ketua Kelompok Nelayan Pantai Samas, Mugari memgungkapkan sudah hampir seminggu nelayan tak melaut sejak musibah banjir dan longsor pada Selasa (28/11/2017) lalu. Pasalnya gelombang naik cukup tinggi, hingga mencapai lima meter. Meskipun beberapa hari terakhir cuaca cukup cerah dan kecepatan angin juga bersahabat, ia mengaku belum akan pergi melaut karena masih dalam kondisi waspada.

Selain itu, saat gelombang tinggi biasanya ikan akan makin ke tengah laut sehingga sulit ditangkap. “Hari ini baru ada satu kapal yang melaut, kalau pulang dapat ikan mungkin besok akan mulai melaut lagi,” katanya, Senin (4/12/2017).

Selain kendala tingginya gelombang, Mugari menyebut nelayan juga direpotkan dengan banyaknya sampah yang terbawa aliran air hingga ke laut. Pasalnya sampah-sampah tersebut menyusahkan gerak kapal nelayan dan jaring dipastikan akan tersangkut.

Hal senada diungkapkan oleh nelayan Pantai Depok, Sukarjo. Menurutnya, meski telah dibersihkan setiap pagi namun sampah-sampah tersebut masih saja menumpuk. Sebab hampir setiap hari ada sampah dari tengah laut yang terbawa arus hingga ke tepian pantai.

Tidak hanya sampah plastik dan limbah rumah tangga, tumpukan sampah sepanjang Pantai Depok hingga Parangtritis tersebut didominasi oleh sampah bambu dan kayu yang susah dibersihkan. “Mungkin seminggu baru agak bersih. Ini menyusahkan, walaupun melaut di tengah laut juga banyak sampah,” katanya.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…