Longsor yang terjadi di Goa Selarong memutus akses menuju atas goa, Senin (4/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Longsor yang terjadi di Goa Selarong memutus akses menuju atas goa, Senin (4/12/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 Desember 2017 10:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

CUACA EKSTREM
Jalan ke Goa Selarong Putus, Proyek Perbaikan Terhenti

Akibat cuaca ekstrem beberapa hari terakhir, rehab cagar budaya Goa Selarong terganggu

Solopos.com, BANTUL–Akibat tingginya curah hujan beberapa hari terakhir, rehab cagar budaya Goa Selarong terganggu. Pasalnya goa petilasan Pangeran Diponegoro ini rusak di sejumlah bagian, bahkan akses jalan menuju ke atas goa ambrol dan terputus.

Kabid Pelestarian Warisan dan Nilai-Nilai Budaya Disbud Bantul, Kesi Irawati mengakui proyek rehab tersebut kini terhambat. Ia mencatat ada beberapa kerusakan di goa yang terletak di wilayah perbukitan Kecamatan Pajangan itu.

Di antaranya akses jalan menuju atas gua yang terputus karena ambrol, pagar retak, pelataran depan Gua Kakung dan jembatan menuju ke jalan masuk amblas. Akibatnya pengerjaan proyek rehab khususnya di sisi timur terhenti.

Padahal dalam kontrak yang disepakati, proyek tersebut harus selesai pada 15 Desember mendatang. “Sisi timur belum bisa di mulai lagi karena masih ada gerakan tanah setelah longsor,” katanya, Senin (4/12/2017).

Lebih lanjut Kesi menuturkan nilai proyek pembuatan drainase dan beberapa rehab yang dilakukan di Kompleks Goa Selarong tersebut sebesar Rp314 juta yang berasal dari Danais. Ia menambahkan jika memang nantinya dana yang disiapkan tersebut tidak mencukupi karena terdampak longsor, maka kemungkinan akan ditambah dengan anggaran 2018 mendatang.

Terkait kerusakan di titik cagar budaya lainnya yang berjumlah 212 di seluruh Bantul, Kesi mengaku belum mendapatkan laporan lebih lanjut. Namun di setiap titik tersebut terdapat petugas yang bekerja untuk melakukan perawatan. “Sejauh ini belum ada laporan kerusakan dari petugas, selain Goa Selarong,” katanya.

Selain Goa Selarong, menurutnya ada dua proyek rehab yang didanai oleh APBD Bantul dan Dana Keistimewaan di tahun ini. Yaitu pembuatan pagar dan parkir di situs cagar budaya Ambarbinangun dan pembuatan drainase sekeliling pagar Cepuri Parangkusumo. Untuk proyek di Ambarbinangun dan Parangkusumo, Kesi mengatakan proyek tidak terdampak bencana dan rehab masih terus dilakukan hingga kini.

Sementara itu, dari pantauan Harianjogja.com di lapangan, longsor di Goa Selarong cukup parah. Longsor tersebut terjadi pada punggung bukit, tepatnya pada saluran air sisi timur. Bahkan terlihat dari bekas longsor, ada beberapa pohon yang roboh terbawa material longsor.

Salah seorang warga, Wicasono menyebut longsor terjadi pada Selasa (28/11/2017) lalu. Sehari setelah longsor, beberapa kerusakan lain pun menyusul seperti retaknya dinding pagar dan amblesnya pelataran Gua Kakung. “Lha ini masih bahaya, kalu hujan lagi bisa bertambah besar,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sekaten, Ritual dan Dakwah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (2/12/2017). Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Ilmu Sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah fajarshodiq70@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Awal Desember ini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan…